Archive for the ‘Indonesia’ Category

Sebenarnya sich ini tugas kuliah ya yang penting ane upload dlu buat nambah2 referensi bagi teman2 yang mau tahu seberapa berdayasaingnya kopi kita dengan kopi-kopi di tingkat pasar dunia. Check this Out!!!

1. PENDAHULUAN

1.1     LATAR BELAKANG 

Perkembangan lingkungan eksternal dan internal yang cepat dewasa ini telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pelbagai faktor, terutama aspek sosial dan ekonomi seperti proses globalisasi dan desentralisasi sebagai implementasi dari Undang-Undang Otonomi Daerah. Liberalisasi perdagangan yang berlangsung sangat cepat dan meluas merupakan tantangan, namun sekaligus juga merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan dalam proses pembangunan ekonomi. Saat ini, Indonesia menghadapi dua tantangan utama terkait dengan proses globalisasi dan desentralisasi. Pertama, upaya peningkatan daya saing sektor-sektor unggulan Indonesia melalui peningkatan efesiensi dan pembangunan keunggulan kompetitif pada gilirannya akan memperkokoh ketahanan dan pertumbuhan ekonomi. Kedua, pelaksanaan proses desntralisasi ekonomi dilakukan dengan cara bertahap agar potensi sumberdaya ekonomi di seluruh daerah dapat segera digerakkan secara bersamaan menjadi kegiatan ekonomi yang meluas.

Dikenal sebagai negara agraris, perekonomian Indonesia lebih banyak bertumpu pada sektor pertaniannya. Perkebunan adalah salah satu contoh subsektor dari pertanian yang menjadi andalan. Kopi, tebu, kelapa kakao dan kelapa sawit adalah pelbagai contoh komoditi unggulan Indonesia di bidang ini. Tabel 1.1. menyajikan produksi komoditi perkebunan Indonesia dari tahun 2005 sampai 2009.

Tabel 1. 1. Produksi Komoditi Perkebunan (Juta Ton)

Komoditi

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

Kopi 0.640 0.682 0.676 0.698 0.682
Kelapa 3,096 3,131 3,193 3,239 3,257
Tebu 2,241 2,307 2,623 2,668 2,517
Kelapa sawit 11,861 17,35 17,664 17,539 19,324
Kakao 0,748 0,769 0,74 0,803 0,809

Sumber : Kementan dalam Andelisa, 2011

Indonesia merupakan salah satu negara produsen utama kopi dunia yang akhir-akhir ini kontribusinya terhadap devisa negara maupun pendapatan petani kopi cenderung meningkat hanya sedikit atau bisa dikatakan stagnan, hal ini terbukti pada tabel di atas. Pada tahun 2005 total produksi dengan jumlah 0,640 hingga berada dikisaran 0,682 pada akhir tahun 2009. Pelbagai kendala menghadapi salah satu unggulan Indonesia ini, antara lain kondisi tanaman umumnya sudah tua, kurang terpelihara, lemahnya koordinasi antara petani dengan pemerintah terkait bagaimana cara budidaya, pengolahan dan distribusi, produktivitasnya semakin menurun dan lainnya. Sementara upaya rehabilitasi maupun peremajaan tidak mendapat perhatian karena harga kopi tidak menarik investor.

Peran kopi sendiri bagi perekonomian Indonesia masih cukup penting meskipun hanya sebesar 0,5 % dari semua komoditas (ICO, 2010). Kopi berperan sebagai sumber pendapatan petani kopi, sumber devisa maupun penyedia lapangan kerja melalui kegiatan budidaya, pengolahan, pemasaran dan perdagangan (ekspor dan impor). Pada perdagangan internasional, Indonesia menempati peringkat 4 dunia dalam produksi kopi, dibawah Brazilia, Colombia dan Vietnam. Negara terakhir khususnya adalah pesaing baru di dunia perkopian, karena baru muncul sekitar tahun 1997.

Negara-negara produsen selain Indonesia telah melakukan langkah-langkah besar demi menguasai pangsa pasar kopi dunia, baik arabika dan robusta. Faktor inilah yang menjadikan keharusan untuk menganalisis kelebihan dan kekurangan dari komoditi kopi Indonesia sangat diperlukan agar produsen di Indonesia dapat mencari peluang dan meminimalisir setiap kekurangan yang ada. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya agar agribisnis unggulan Indonesia ini tidak mengalami kemunduran dan tertinggal dari produsen kopi dunia yang lain.

 

1.2     TUJUAN

Tulisan ini bertujuan menganalisis kemampuan daya saing komoditi kopi Indonesia di pangsa pasar dunia, faktor-faktor apa yang memengaruhinya, serta pelbagai rekomendasi agar kopi Indonesia dapat bersaing dengan kopi sejenis dari negara lain.

 

1.3     METODOLOGI

Pada laporan ini, penulis menggunakan analisa komparatif RCA(Revealed Comparative Advantage) dan teori Berlian Porter. Penggunaan kedua analisa ini membantu mengidentifikasi sistematis dari faktor dan strategi yang merefleksikan keduanya. Data-data pendukung akan dicantumkan guna membantu penulis membandingkan ekspor Indonesia dengan negara lain.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1     PERKEMBANGAN EKSPOR PRODUSEN KOPI DUNIA

Perkopian dunia mengalami banyak perubahan, mulai dari fluktuatuifnya harga kopi di pasar internasional hingga jumlah volume ekspor kopi tiap-tiap negara yang saling bersaing. Hal ini tidak terlepas dari permintaan dan produksi kopi tiap-tiap negara pengekspor kopi serta perubahan gaya hidup masyarakat. Dewasa ini, kopi dunia dikuasai sepenuhnya oleh 4 eksportir besar dunia antara lain Indonesia, Brazil, Colombia dan Vietnam, baik kopi arabika dan robusta. Pangsa pasar yang menjadi tujuan utama para eksportir kopi antara lain, Uni Eropa, Amerika, Jepang dan lainnya.

Persaingan keempat negara ini dalam menguasai pangsa kopi dunia semakin sengit. Bahkan Vietnam yang notabene “orang baru” dalam persaingan ini, telah menggeser posisi Colombia dan Indonesia keurutan 3 dan 4 pada tahun 1997 untuk produksi kopi robusta. Berikut adalah tabel ekspor dari keempat produsen kopi dunia.

Tabel 2. 1 Perkembangan Produksi dan Volume Ekspor Produk Kopi Indonesia, Brazil, Colombia, dan Vietnam (dalam 000 bags)

Tahun

Indonesia

Brazil

Colombia

Vietnam

Produksi

Ekspor

2000

6.987

5.358

18.016

9.176

11.618

2001

6.833

5.243

23.172

9.943

14.106

2002

6.731

4.286

27.981

10.273

11.771

2003

6.404

4.795

25.710

10.244

11.631

2004

7.536

5.456

26.478

10.194

14.858

2005

9.159

6.744

26.190

10.871

13.432

2006

7.483

5.280

27.354

10.944

13.904

2007

4.474

4.149

28.174

11.300

17.936

2008

9.612

5.741

29.503

11.085

16.101

2009

11.380

7.907

30.345

7.893

17.051

2010

9.129

5.489

33.028

7.821

14.228

2011

8.750

6.264

33.456

7.733

17.675

Sumber : ICO, 2012

Indonesia merupakan salah satu produsen kopi nomor 4 di dunia dengan total luasan tanam adalah sekitar 1.308.000 ha (AEKI,2012). Meskipun terbilang cukup luas dalam hal luasan tanam, produksi kopi ini sendiri lebih banyak dibudidayakan oleh rakyat atau lebih dikenal dengan kopi rakyat sebesar 90 %, sedangkan sisanya dibudidayakan oleh perusahaan negara maupun swasta. Hal ini yang menyebabkan kopi Indonesia kurang bisa bersaing di level Internasional karena kebanyakan kopi yang dibudidayakan adalah milik rakyat, yang notabene kualitas dan kuantitasnya jauh dibawah standar yang ada sehingga produk-produk yang berasal dari Indonesia lebih banyak dipinggirkan. Meskipun demikian, peran komoditas kopi bagi perekonomian Indonesia masih cukup penting bagi petani kopi, pengusaha hingga eksportir.

Tabel 2. 2 Nilai Ekspor Kopi Indonesia (Xij), Nilai Ekspor Total Indonesia (Xjj), Nilai Ekspor Kopi Dunia (Xiw), dan Nilai Ekspor Total Dunia (Xww) dalam ribuan US $

Tahun Xij Xjj Xiw Xww
2006

497.328

100.790.000

10.100.000

11.970.949.000

2007

622.601

114.100.000

12.500.000

14.002.600.000

2008

923.542

137.020.000

15.000.000

16.120.500.000

2009

803.564

116.500.000

13.500.000

12.516.400.000

2010

846.543

157.700.000

15.400.000

14.841.056.500

2011

1.064.369

203.620.000

23.500.000*

17.779.000.000

Sumber : AEKI (2012), WTO (2012), ICO (2012), Wikipedia (2012)

 

2.2     PERKEMBANGAN EKSPOR KOPI DI INDONESIA

Kopi Indonesia saat ini menempati peringkat keempat terbesar di dunia dari segi hasil volume ekspor dunia. Komoditas ini di Indonesia memiliki sejarah panjang dan memiliki peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat di Indonesia. Kopi yang awalnya dibawa sekitar tahun 1696 oleh pemerintahan Belanda yang kala itu berkuasa di Indonesia hingga menjadikan negara ini sebagai produsen kopi di dunia.

Indonesia diberkati dengan letak geografisnya yang sangat cocok difungsikan sebagai lahan perkebunan kopi. Produksi kopi Indonesia kebanyakan berasal dari 2 jenis kopi, yakni kopi arabika dan robusta. Kopi-kopi arabika banyak dibudidayakan di dataran tinggi oleh perusahaan negara, salah satu contohnya PTPN XII Kalisat dan Blawan. Selain di Jawa, kopi ini juga banyak dibudidayakan di Aceh, Toraja, dan Bali. Sedangkan untuk kopi robusta yang budidayanya di dataran rendah, banyak dijumpai di Lampung, Flores dan Jawa. Keduanya adalah jenis kopi andalan Indonesia yang saat ini sudah memiliki nama (brandimage) di pasar dunia. Berikut ini adalah ekspor kedua jenis kopi dan hasil olahannya antara tahun 2006 sampai dengan 2011.

Tabel 2. 3 Ekspor Kopi Indonesia Per Jenis Kopi (ton, 000 US $)

Tahun

Arabika

Robusta

Olahan

Total

Volume

Nilai

Volume

Nilai

Volume

Nilai

Volume

Nilai

2006

67.775

169.901

227.620

294.164

12.481

33.263

307.876

497.328

2007

50.952

141.926

247.852

425.332

13.279

55.343

312.083

622.601

2008

59.735

228.072

348.187

630.917

13.843

64.553

421.765

923.542

2009

62.854

172.909

434.430

608.304

8.098

22.351

505.382

803.564

2010

78.036

249.162

360.603

571.977

8.855

25.404

447.494

846.543

2011

73.715

438.671

265.368

580.266

12.924

45.432

352.007

1.064.369

Sumber : AEKI, 2012

Ekspor kopi Indonesia hampir seluruhnya dalam bentuk biji kering dan hanya sebagian kecil (sekitar dari 4%) dalam bentuk hasil olahan. Padahal kopi dalam bentuk hasil olahan dapat menaikan nilai tambah kopi tersebut dari pada dalam bentuk kering atau baku. Negara tujuan utama ekspor kopi Indonesia adalah Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan dan Italia.

3. PEMBAHASAN

Kondisi dunia perkopian di Indonesia sedang tidak dalam kondisi kondusif. Saat ini industri kopi sedang mengalami berbagai masalah, seperti cenderung stagnannya tingkat produksi nasional berada dikisaran 5000-an, kurang berdayasaingnya komoditi kopi di pasar internasional, dan disisi lain tingkat konsumsi masyarakat Indonesia juga masih tergolong rendah. Perlu adanya upaya untuk mentransformasikan komoditi ini dari keunggulan komperatif (comparative adventages) menjadi keunggulan kompetitif (competitive advantages) dengan mengembangkan subsistem agribisnis hilir dan membangun jaringan pemasaran domestik maupun internasional.

3.1     EKSPOR KOPI INDONESIA

Pada bab 2, data mengenai volume produksi dan ekspor negara-negara produsen kopi, anatar lain Indonesia, Brazilia, Colombia, dan Vietnam. Data tersebut adalah gabungan dari pelbagai jenis kopi yang diproduksi oleh produsen, baik bahan baku maupun hasil olahannya. Dilihat pada tabel 2.1, rata-rata produksi Indonesia untuk tahun 2000 sampai dengan 2011 adalah 5.582, jauh dibandingkan negara-negara produsen lain seperti Brazil dengan 27.750, Colombia dengan 9.652 dan Vietnam denan 14.525. Hal ini yang membuat Indonesia jauh tertinggal dan stagnan dengan hasil produksinya. Sungguh ironi memang, dengan memiliki luasan yang cukup tapi tidak bisa mengoptimalkan produksi yang bisa didapatkan. Meskipun demikian, komoditi ini masih menjadi primadona di dalam negeri karena pangsa pasar luar negeri dan harganya pun masih bisa membuat para pengusaha maupun pemerintah lega dibalik cenderung stagnannya produksi.

Pada tabel 2.3 menjelaskan ekspor kopi Indonesia berdasarkan jenis kopinya dari tahun 2006-2011, dapat dilihat bahwa produksi Indonesia kebanyakan berasal dari kopi robusta bukan kopi arabika, padahal kopi yang paling diminati di luar negeri adalah kopi arabika. Selain masalah itu, masalah yang lain muncul adalah ketidakmampuan Indonesia dalam menghasilkan hasil olahan kopi untuk pangsa pasar dunia, hanya sebesar 4% dari jumlah total ekspor kopi Indonesia. Pengembangan industri hilir kopi dan promosi untuk meningkatkan konsumsi kopi domestik mempunyai arti yang sangat strategis untuk mengurangi ketergantungan biji kopi di ekspor ke pasar internasional, sekaligus dapat meraih nilai tambah (value added) yang lebih besar. Pada hasil biji kering, Indonesia memiliki produk yang dikenal oleh konsumen di luar negeri semisal Java Coffea, Gayo Mountain Coffea, Luwak Coffea, dan lainnya. Hanya saja pada hasil olahan, Indonesia membutuhkan sebuah brandimage agar hasil olahan dapat terkenal dan disukai oleh konsumen dunia. Tetapi yang patut disyukuri adalah peningkatan nilai ekspor kopi Indonesia tahun demi tahun yang awalnya US $ 497.328.000 pada tahun 2006 melonjak hampur 2 kali lipat pada tahun 2011 yakni US $ 1.064.369.000.

 

3.2     ANALISA KOMPARATIF

Dalam perhitungan komparatif ini, penulis menggunakan salah satu metode yang terkenal untuk menghitung berdaya saing atau tidakkah suatu komoditi dalam perdagangan, yakni RCA (Revealed Comparative Advantage). Berdasarkan tabel 2. 2, berikut ini adalah hasil olahan untuk mengetahui berapa RCA, Indeks RCA dan AR.

Tabel 3.1 RCA, Indeks RCA dan AR dari Kopi Indonesia

Tahun

RCA

Indeks RCA

AR

2006 5,85
2007 6,11 1,05 1,01
2008 7,24 1,19 1,24
2009 6,39 0,88 0,97
2010 5,17 0,81 0,92
2011 3,95 0,76 0,82

Sumber : Data diolah, 2012

RCA dapat dihitung untuk nilai ekspor komoditi tertentu. Jika RCA>1 (lebih dari satu), menunjukkan pangsa komoditi kopi dalam total ekspor negara lebih besar dari pangsa komoditi yang bersangkutan di dalam ekspor dunia. Semakin besar nilai RCA menunjukkan semakin kuat keunggulan komparatif yang dimiliki. Implikasinya, negera tersebut memiliki kemampuan untuk mengekspor komoditi yang dimaksud tanpa meninggalkan prisnsip-prinsip efesiensi produksi. Hanya saja berdasarkan tabel di atas, nilai RCA kopi Indonesia mengalami penurunan dari tahun ke tahun. RCA kopi bernilai 5,85 pada tahun 2006 menurun hingga 2 point ke nilai 3,95 pada tahun 2011. Ini terlihat juga pada indeks RCA kopi Indonesia, nilai indeks lebih kecil dari 1 yang artinya semakin menurunnya angka indeks menunjukkan adanya penurunan RCA turunnya, maka kinerja ekspor komoditi kopi dibandingkan dengan kinerja ekspor rata-rata dunia. Dari kedua analisa komparatif ini mengindikasikan ada yang salah dengan sistem-sistem yang menunjang dan mendukung produksi komoditi ini. Perlu adanya gebrakan untuk memperbaiki kualitas keunggulan daya saing kopi agar sejajar dengan produsen yang lain.

Pada analisa ketiga, penulis menggunakan analisa AR (Acceleration Ratio). Analisa ini digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya keunggulan komparatif komoditi. Analisa ini membandingkan trend ekspor komoditi tertentu suatu negara dengan trend ekspor komiditi yang bersangkutan (total dunia). Dari tabel di atas didapatkan hasil bahwa nilai AR kopi Indonesia mengalami penurunan. Dengan nilai AR dibawah 1, maka dapat disimpulkan bahwa komoditi kopi Indonesia kurang berdaya saing di pasar dunia.

 

3.3     ANALISA BERLIAN PORTER

Teori Berlian Porter atau yang lebih terkenal dengan Porter’s menyatakan bahwa faktor-faktor pembawa daya saing nasional atau suatu produk yaitu factor condition(kondisi faktor), demand condition (kondisi permintaan), related supporting industries (industri penunjang dan terkait), serta firm strategy, structure and rivalry (strategi perusahaan, struktur, dan persaingan). Dengan dukungan faktor-faktor itu dan dengan kecermatan memetakan konstelasi industri, pemerintah dan perusahaan dipandang akan mampu menetapkan posisi dan strategi bersaing untuk menjadi yang terunggul. Kemampuan untuk menganalisa faktor-faktor yang berkaitan dengan perkopian Indonesia mampu menjadikan kopi Indonesia terbaik di dunia.

3.3.1  Permintaan

  1. Permintaan dunia komoditi kopi terus meningkat, sejalan dengan peningkatan konsumsi kopi di Eropa, Asia Timur dan Amerika Utara. Negara-negara dikawasan ini memiliki kebiasaan minum kopi sejak dulu sehingga konsumsi kopi tinggi, sebagai contoh Finlandia dengan 11,2 kg/kapita/tahun dan Norwegia dengan 9,1 kg/kapita/tahun.
  2. Permintaan pasar domistik cukup potensial, sementara produksi kopi di Indonesia masih belum sepenuhnya sesuai permintaan pasar. Meskipun saat ini konsumsi kopi dalam negeri hanya sebesar 0,86 kg/kapita/tahun, tetapi dengan populasi 280 juta ini adalah pasar potensia untuk pangsa kopi.
  3. Pasar dunia lebih menyukai kopi jenis Arabika, sementara Indonesia lebih banyak memproduksi kopi jenis Robusta. Produksi kopi arabika Indonesia hanya sebesar 22 % dari produksi nasional pada tahun 2010 (AEKI, 2012).
  4. Tuntutan konsumen kopi dunia mulai menghendaki produk-produk kopi back to nature yang sedang menjadi trend di kota-kota besar dunia.
  5. Produk kopi rendah kafein (decafeinated coffee) harus disikapi dengan tepat dalam pengembangan diversifikasi produk kopi olahan kedepan, selain kopi bubuk, kopi instan, kopi mix dan minuman kopi.
  6. Adanya lonjakan produksi/suplay kopi dunia dalam dekade 5 (lima) tahun terakhir. Sementara permintaan/demand dunia meningkat tidak signifikan. Hal ini mengakibatkan anjloknya harga kopi dunia.
  7. Harga kopi yang kurang menarik, menyebabkan petani kopi Indonesia kurang bergairah meningkatkan produksinya baik secara ekstensifikasi maupun intensifikasi.

 

3.3.2  Faktor Kondisi (Input)

  1. Sumber Daya Alam

ü Indonesia sebagai negara beriklim tropis sangat cocok untuk budidaya tanaman kopi dan menghasilkan biji kopi dengan citra khas baik jenis robusta ataupun arabika. Kopi sendiri optimal ditanam di daerah tropis dan Indonesia salah satunya. Perbedaan kopi arabika dan robusta adalah pada tinggi tempat budidayanya. Umumnya kopi arabika ditanam di dataran tinggi diatas 1000 mdpl. Sedangkan kopi robusta ditanam didataran rendah (< 700 mdpl).

ü Bahan baku kopi Arabika dan Robusta tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

ü Luas pertanaman kopi yang diusahakan di Indonesia lumayan besar dan produktivitasnya masih bisa ditingkatkan. Dengan luasan 1.308.000 ha, Indonesia memiliki 296.854 ha untuk kopi arabika dan 1.011.146 ha kopi robusta (AEKI, 2012).

ü Di Indonesia, tanaman kopi dihasilkan dari tanaman perkebunan rakyat 90%, perkebunan negara dan swasta sisanya.

  1. Sumber Daya Modal

ü Secara umum, sumber daya modal untuk investasi pada industri pengolahan kopi berupa investasi yang berbadan hukum (PMA, PMDN, dan non PMA/PMDN berupa BUMN, BUMD, Koperasi) dan tidak berbadan hukum (perorangan atau kelompok).

ü Iklim usaha yang kondusif, dengan sejumlah fasilitas seperti: informasi, layanan teknologi, dan jasa pelayanan dapat dipercaya telah berhasil menarik investor untuk usaha perkopian Indonesia.

ü Perlu meningkatkan daya tarik investor pada usaha perkopian diperlukan kebijakan iklim usaha kondusif, serta peningkatan kualitas pelayanan terhadap masyarakat.

  1. Sumber Daya Manusia

ü Sumber daya manusia untuk usaha bidang perkopian di Indonesia cukup memadai baik secara kuantitatif tetapi secara kualitatif masih buruk.

ü Minimnya pengetahuan, tatacara budidaya kopi, dan teknologi pada petani kopi. Tinggi tanaman yang idealnya seukuran dengan tinggi orang Indonesia yakni 1,8 – 2 meter tetapi oleh petani dibiarkan begitu saja bahkan mencapai 5-6 meter. Salah satu contoh ini menyebabkan produksi kopi petani jauh dari kata baik.

ü Penyerapan tenaga kerja dibidang usaha perkopian sebagian besar masih pada sub sektor perkebunan, sedangkan pada sub sektor industri pengolahan masih sedikit.

  1. Infrastruktur : Kondisi infrastruktur untuk usaha perkopian utamanya di pulau Jawa, seperti: jalan, alat angkutan, pelabuhan, listrik dan energi cukup memadai hanya belum maksimal, terlebih pada masalah jalan. Kebanyakan jalan yang mengarah langsung ke perusahaan kopi banyak mengalami kerusakan. Perlunya perbaikan-perbaikan dipelbagai sector di sektor penunjang ini agar pengiriman serta keperluan-keperluan lainnya bisa tidak terlambat.
  2. Teknologi

ü Teknologi pada budidaya dan pengolahan kopi belum berkembang pesat.

ü Teknologi menanggulangi hama penyakit dan pengolahan kopi pada perusahaan negara, swasta serta petani harus disamaratakan caranya, agar hasilnya tidak jauh berbeda.

ü Teknologi produk dan desain kemasan diarahkan untuk diversifikasi produk (kopi instan, kopi mix, kopi dekafein, minuman kopi beraroma).

ü Inovasi teknologi produk kopi disesuaikan terhadap selera konsumen, dengan cita rasa yang didasarkan: jenis kopi, kualitas biji kopi, lingkungan tempat tumbuh tanaman dan teknologi pengolahan biji kopi.

3.3.3  Industri Inti, Pendukung dan Terkait

  1. Industri Inti : Perkebunan Kopi PTPN, Perusahaan Swasta
  2. Industri Pemasok : Petani Rakyat
  3. Industri Penunjang/ Pendukung : Pabrik Pengolahan Kopi, Jasa Perbankan, Jasa Transportasi, Pengemasan, Mesin Peralatan
  4. Industri Terkait : Pabrik Susu, Pengolahan Limbah Kopi (Kompos), Pakan Ternak
  5. Institusi Pendukung : Lembaga Penelitian Kopi (Puslit Kopi-Kakao), AEKI (Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia)
  6. Buyer : Domestik dan Luar negeri

 

3.3.4  Persaingan, Struktur dan Strategi Perusahaan

Saat ini, persaingan kopi Indonesia dengan kopi dari produsen kopi lainnya sedikit timpang. Hal ini dilihat dari total produksi yang dihasilkan dari masing-masing negara, Indonesia masih kalah jauh dan perlu perbaikan menyeluruh agar kopi Indonesia bisa bersaing kembali, mengingat luasan pertanaman kopi Indonesia cukup luas. Pada struktur dan strategi perusahaan, perusahaan di Indonesia perlu mengembangkan cara-cara baru dan strategi yang sekiranya mampu membawa kopi Indonesia memiliki harga jual yang tinggi. Berikut adalah yang bisa dilakukan oleh perusahaan dalam hal strategi.

1). Faktor intern perusahaan:

  • Penyediaan kualitas dan kuantitas kopi biji dan tersedia secara kontinyu,
  • Menyediakan SDM untuk meningkatkan kemampuan budidaya, processing, pemasaran dan managerial perusahaan,
  • Efisiensi biaya produksi untuk mendapatkan harga jual produk bersaing
  • Promosi di setiap event yang diselenggarakan baik di dalam negeri maupun luar negeri, dan
  • Pelayanan optimal perusahaan.

2). Faktor ekstern perusahaan:

  • Membangun kerja sama kemitraan antar pemangku kepentingan;
  • Pengendalian perusahaan akibat munculnya pesaing-pesaing baru;
  • Pengendalian perusahaan akibat terjadinya perubahan situasi moneter, fiskal dan kebijakan pemerintah;
  • Pengendalian perusahaan akibat terjadinya gejolak politik dan sosial (Pemilu, Pilkada, aksi buruh dsb).
  • Mengantisipasi adanya perkembangan perekonomian global dan
  • Mengantisipasi adanya ketentuan tarif, NTB, HAM dan lingkungan hidup negara pengimpor.

 

3.3.5  Peranan Pemerintah

Peranan pemerintah pada komoditi ini juga banyak berpengaruh disegala sektor di dunia perkopian Indonesia. Berikut adalah kondisi peranan pemerintah.

ü Kebijakan regulasi investasi masih lemah. Masih belum tegasnya dan sering berubahnya aturan-aturan dalam membangun dan mengembangkan usaha serta ketidakjelasan iklim bisnis di bidang industri utamanya menyebabkan investor enggan menancapkan usahanya di Indonesia.

ü Penetapan regulasi-regulasi yang berkaitan dengan komoditi kopi baik ditingkat budidaya, pengolahan hingga ekspor. Regulasi pemerintah yang berkaitan dengan kopi, antara lain:

  • Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 41/M-DAG/PER/9/2009 tentang Ketentuan Ekspor Kopi.
  • Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 10/M-DAG/PER/3/2009 tentang Ekspor Barang yang Wajib Menggunakan Letter of Credit.

 

3.3.6  Peranan Peluang

Peluang ekspor kopi Indonesia di pasar dunia cukup terbuka lebar. Pelbagai peluang banyak digunakan untuk meningkatkan nilai jual produk kopi, salah satunya adalah kopi-kopi spesialiti. Berikut ini adalah salah satu peluang Indonesia dalam pasar dunia, yakni pengembangan spesialiti kopi arabika dan robusta. Kekhasan kopi-kopi ini juga akan menambah value added kopi itu sendiri sehingga dapat meningkatkan devisa dan brandimage kopi Indonesia. Pangsa pasar untuk kopi-kopi spesialiti juga lumayan besar dan harganya pun lebih tinggi dari pada kopi-kopi regular.

Tabel 3. 2 Spesialti Kopi Arabika Indonesia

No.

Jenis Kopi

Masa Panen

Proses

Grade

Citarasa

Produksi / tahun

1. Mandheling Coffee September – May semi Washed 1,2, & 3 Full body, neutral, good acidity 35,000
2. Linthong Coffee October – May semi Washed 1,2, & 3 Fine acidity, and good body 10,000
3. Java Coffee May – August Wet Process 1 Good body, fine acidity, nice complex cup and exotic flavour 4,000
4. Toraja / Kalosi / Celebes Coffee June – September Dry Process 1 & 2 Good acidity, smooth, very nice mellow and good body 4,000
5. Bali Coffee May – September Wet & Dry 1,2, & 3 Fine acidity, smooth 2,000

Sumber : AEKI, 2012

Tabel 3. 3 Spesialti Kopi Robusta Indonesia

No.

Jenis Kopi Masa Panen Proses Grade Citarasa Produksi / tahun
1. Washed Java Robusta May – September Wet Process 1 Good body, clean, very weak acidity and bitterness net 5,000
2. Lampung Specialty AP April – July Dry Process 1 Full body, clean and very weak acidity 15,000
3. Lampung Specialty ELB April – July Dry Process 1 Full body, large beans and clean 10,000
4. Flores Coffee May – August Wet Process 1 Good body and bitterness net 4,000

Sumber : AEKI, 2012

Selain peluang kopi-kopi spesialti, kopi-kopi go green juga dapat meningkatkan nilai tambah, karena kopi-kopi semacam ini banyak dipesan negara luar seiring dengan semakin diperhatikannya urusan keshatan konsumen.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1     KESIMPULAN

  1. Tidak adanya cara budidaya tanaman kopi yang baik sehingga dengan luasan yang cukup besar, Indonesia masih belum bias menghasilkan produksi koi optimal
  2. Perlu adanya kesepakatan dari petani

4.2     SARAN

  1. Pemberian pelbagai kemudahan bagi petani kopi baik modal, kemitraan dan pengawasan hasil serta distribusi hasil panen kopi.
  2. Perlunya pemerintah mengembangkan teknologi-teknologi termutakhir baik di budiaya hingga pengolahan dengan dibantu LITBANG.
  3. Perlunya pengembangan industri pengolahan kopi di Indonesia.
  4. Promosi untuk meningkatkan konsumsi kopi domestik  karena tingkat konsumsi dalam negeri yang masih rendah.
  5. Membangun citra merk baik di bahan baku kering maupun di produk olahan, lebih banyak modifikasi produk olahan dan pemanfaatan cafe-cafe.
  6. Mengusahakan kopi-kopi spesialiti khas Indonesia, terutama pada kopi arabika.
  7. Penetapan regulasi-regulasi yang berkaitan dengan komoditi kopi baik ditingkat budidaya, pengolahan hingga ekspor.
  8. Keharusan pemerintah untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.
  9. Pemberian kemudahan bagi investor kopi dalam kemudahan informasi dan infrastruktur.

 

V. DAFTAR PUSTAKA

AEKI. 2012. . http://www.aeki-aice.org

Departemen Perindustrian. 2009. Roadmap Industri Pengolahan Kopi. http:// agro.kemenperin.go.id/uploads/pdf/ROADMAP-KOPI.pdf [26 Maret 2012]

ICO. 2012

http://nsrupidara.wordpress.com/2008/05/22/daya-saing-dan-kualitas-sdm/

http://www.ico.org/documents/cmr-1211-e.pdf

Sungguh  keterlaluan bila saya  sebagai  warga  Indonesia, tidak menunjukkan rasa nasionalisme saya terhadap bangsa ini. Dari kemarin-kemarin, gue cuma posting yang luar negeri terus. G ada yang Indonesia sama sekali. Nah buat mengingatkan saya dan saudara-saudara pembaca, gimana kalo saya membahas  budaya-budaya yang dimiliki Indonesia. Salah satunya REOG…….

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok Warok dan Gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat Reog dipertunjukkan [1] . Reog adalah salah satu bukti budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

//<![CDATA[
if (window.showTocToggle) { var tocShowText = “tampilkan”; var tocHideText = “sembunyikan”; showTocToggle(); }
//]]>

Sejarah Reog Ponorogo

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok , namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya . Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.

Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Pementasan Seni Reog

Reog Ponorogo

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,

Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Sumber : wikipedia

Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang(lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.

Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita Panji.

Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga ( Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ). Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah dan timur, sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat.

Wayang Kulit dan Warisannya

Wayang kulit adalah seni pertunjukan yang telah berusia lebih dari setengah milenium. Kemunculannya memiliki cerita tersendiri, terkait dengan masuknya Islam Jawa. Salah satu anggota Wali Songo menciptakannya dengan mengadopsi Wayang Beber yang berkembang pada masa kejayaan Hindu-Budha. Adopsi itu dilakukan karena wayang terlanjur lekat dengan orang Jawa sehingga menjadi media yang tepat untuk dakwah menyebarkan Islam, sementara agama Islam melarang bentuk seni rupa. Alhasil, diciptakan wayang kulit dimana orang hanya bisa melihat bayangan.

Pagelaran wayang kulit dimainkan oleh seorang yang kiranya bisa disebut penghibur publik terhebat di dunia. Bagaimana tidak, selama semalam suntuk, sang dalang memainkan seluruh karakter aktor wayang kulit yang merupakan orang-orangan berbahan kulit kerbau dengan dihias motif hasil kerajinan tatah sungging (ukir kulit). Ia harus mengubah karakter suara, berganti intonasi, mengeluarkan guyonan dan bahkan menyanyi. Untuk menghidupkan suasana, dalang dibantu oleh musisi yang memainkan gamelan dan para sinden yang menyanyikan lagu-lagu Jawa.

Tokoh-tokoh dalam wayang keseluruhannya berjumlah ratusan. Orang-orangan yang sedang tak dimainkan diletakkan dalam batang pisang yang ada di dekat sang dalang. Saat dimainkan, orang-orangan akan tampak sebagai bayangan di layar putih yang ada di depan sang dalang. Bayangan itu bisa tercipta karena setiap pertunjukan wayang memakai lampu minyak sebagai pencahayaan yang membantu pemantulan orang-orangan yang sedang dimainkan.

Setiap pagelaran wayang menghadirkan kisah atau lakon yang berbeda. Ragam lakon terbagi menjadi 4 kategori yaitu lakon pakem, lakon carangan, lakon gubahan dan lakon karangan. Lakon pakem memiliki cerita yang seluruhnya bersumber pada perpustakaan wayang sedangkan pada lakon carangan hanya garis besarnya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang. Lakon gubahan tidak bersumber pada cerita pewayangan tetapi memakai tempat-tempat yang sesuai pada perpustakaan wayang, sedangkan lakon karangan sepenuhnya bersifat lepas.

Cerita wayang bersumber pada beberapa kitab tua misalnya Ramayana, Mahabharata, Pustaka Raja Purwa dan Purwakanda. Kini, juga terdapat buku-buku yang memuat lakon gubahan dan karangan yang selama ratusan tahun telah disukai masyarakat Abimanyu kerem, Doraweca, Suryatmaja Maling dan sebagainya. Diantara semua kitab tua yang dipakai, Kitab Purwakanda adalah yang paling sering digunakan oleh dalang-dalang dari Kraton Yogyakarta. Pagelaran wayang kulit dimulai ketika sang dalang telah mengeluarkan gunungan. Sebuah pagelaran wayang semalam suntuk gaya Yogyakarta dibagi dalam 3 babak yang memiliki 7 jejeran (adegan) dan 7 adegan perang. Babak pertama, disebut pathet lasem, memiliki 3 jejeran dan 2 adegan perang yang diiringi gending-gending pathet lasem. Pathet Sanga yang menjadi babak kedua memiliki 2 jejeran dan 2 adegan perang, sementara Pathet Manura yang menjadi babak ketiga mempunyai 2 jejeran dan 3 adegan perang. Salah satu bagian yang paling dinanti banyak orang pada setiap pagelaran wayang adalah gara-gara yang menyajikan guyonan-guyonan khas Jawa.

Sumber : Wikipedia