SAD Indonesia Gagal Revans Atas Liverpool

sadlost.gif

Tim SAD Indonesia kembali menelan kekalahan di laga lanjutan Quinta Division Uruguay 2008, Minggu (13/7). Kali ini, tim asuhan pelatih Cesar Payovich tersebut harus takluk ditangan Liverpool dengan skor 3-1. Skor serupa juga diperoleh saat kedua tim bertemu dalam pertandingan pra musim bulan Februari lalu.

Dalam pertandingan yang berlangsung mulai pukul 10:30 waktu Uruguay ini, Cesar kembali tidak bisa memainkan bek tangguh Ferdiansyah. Untuk mengisi posisi lowong tersebut, gelandang bertahan, Zaenal Haq ditarik menjadi stopper bersama Reffa Money. Mereka menjaga pertahanan bersamaYerico di kiri dan Taji Prasetyo di sisi kanan. Sementara penjaga gawang tetap tak beralih dari tangan Tri Windu.

Empat pemain tengah dipercayakan kepada Syamsir Alam, Ridwan, Feri dan Rinaldi. Mereka saling bahu membahu menopang duet striker Yandi Sofyan dan Alan Martha.

Pertandingan ini sendiri sebenarnya berimbang. Kedua tim silih berganti melakukan serangan. Namun hingga babak pertama usai, skor tetap 0-0. Di babak kedua, SAD Indonesia berhasil unggul lebih dulu melalui gol Rinaldi Gunapradiptha pada menit ke-60.. Gol tersebut berawal dari umpan Alan Martha kepada Rinaldi di kotak pinalti lawan, kemudian dengan skill individunya, Rinaldi berhasil melewati satu pemain belakang Liverpool sebelum memperdaya kiper lawan.

Saat uji coba pra musim bulan Februari lalu, Rinaldi pulalah yang berhasil membobol gawang Liverpool.

Setelah ketinggalan satu gol, pelatih Liverpool langsung melakukan perubahan formasi. Dua pemain depoan berpostur tinggi besar dimasukkan untuk mengejar ketertinggalan. Ternyata masuknya pemain yang unggul secara fisik ini mampu merepotkan lini pertahanan Indonesia. Tiga gol berhasil bersarang ke gawang Tri Windu pada menit ke 65, 70 dan 80, yang membuat Liverpool menang 3-1 atas SAD Indonesia.

Derita kubu SAD Indonesia bertambah dengan cederanya kiper Tri Windu Anggono yang mengalami benturan keras dalam pertandingan tersebut. Pelatih Cesar Payovich pun memasukkan Alwi untu kenggantikannya. Sementara pergantian pemain lainnya yang dilakukan adalah Bayu menggantikan Alan Martha dan Sahlan Sodik menggantikan Rinaldi.

Pada partai sebelumnya yang digelar pada hari Rabu (9/7), tim SAD Indonesia juga mengalami kekalahan 0-1 dari Atenas San Carlos. Pertandingan berikutnya adalh melawan klub Nacional.

PASCA PANEN KOPI

Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) BIP Irian Jaya NO. 115/92
Diterbitkan oleh: Balai Informasi Pertanian Irian Jaya
Jl. Yahim – Sentani – Jayapura
November 1992 Agdex, 187/54

Data statistik AEKI – BPS Ditjenbun tahun 1988 menunjukkan bahwa produksi kopi
Indonesia adalah Arabica 488 kg/thn, Robusta 559 kg/thn dan Dinas Perkebunan
Propinsi Dati I Irian Jaya tahun 1990 seluruhnya 142,46 Ton. Data tersebut bila
dibandingkan dengan produksi kopi di Costarica 1228 kg/thn. Ini menunjukkan
bahwa produktivitas dan mutu kopi masih rendah. Keadaan ini dapat dimaklumi
bahwa kopi Indonesia banyak diusahakan oleh rakyat sekitar 92 %.
Masalah ini dirasakan oleh konsumen-konsumen kopi oleh karena itu ditekankan
kepada produsen produsen kopi, baik berskala besar maupun kecil sampai kepada
petani untuk memperhatikan Pasca Panennya, agar mutu kopi dapat sesuai dengan
kelas mutu ekspor.
A. P A N E N
1. Pemetikan Buah:

Tanaman kopi berbunga tidak serentak dalam setahun, kadang -kadang 3-4
kali atau terus sepanjang tahun oleh sebab itu ada beberapa cara pemetikan:
- Secara Selektif ialah pemetikan dilakukan terhadap buah yang masak.
- Secara setengah selektif ialah dilakukan pemetikan terhadap dompolan
buah yang masak.
- Secara Lelesan merupakan pemungutan terhadap buah kopi yang gugur
karena terlambat pemetikan biasanya rendah mutunya.
- Secara Rajutan merupakan pemetikan terhadap semua buah baik yang
masih hijau biasanya pada pemanenan akhir.
2. Sortasi dilakukan terhadap buah kering (Lelesan) buah masak dan masih
hijau.
3. Panen dan Tenaga : Pembungaan kopi dipengaruhi iklim dan jenis sehingga
menyebabkan waktu pemanenan, sehingga muncul istilah Panen Permulaan,
Panen Utama, dan Panen Akhir. Kopi Jenis Robusta dipanen dalam waktu 8 -
11 tahun, sedangkan jenis Arabica dipanen 6 – 8 tahun setelah pembungaan.
Cara pemetikan mempengaruhi mutu hasil oleh sebab itu harus diperhatikan.
4. Masa Produksi : Kopi Arabica dalam memberikan hasil panen pertama pada
umur 3 – 4 tahun setelah penanaman, produksi penuh pada umur 6 – 8 tahun,
sedangkan kopi Robusta mulai berbuah pada umur 2 tahun dan berproduksi
penuh pada umur 4 tahun.
B. PENGOLAHAN HASIL
Kopi dijual dalam bentuk biji-biji kering yang sudah terlepas dari daging dan kulit
arinya yang disebut Beras Kopi.
Ada dua cara untuk mendapatkan Beras Kopi, yakni pengolahan kering (Dry
Process) dan pengolahan basah (Wet Process).
- Pengolahan Kering Yaitu:
hasil panenan langsung dijemur 10 – 15 hari dengan melakukan pembalikan agar
biji kering benar, lalu disimpan sebagai biji gelondong. Pada saat dijual kopi
gelondong dilepas kulit tanduknya serta arinya. Pengolahan dianggap selesai bila:
a . Kadar air 13 %
b. Kadar kotoran berupa ranting batu, gumpulan tanah, dan benda asing
lainnya 0,5 %.
c. Bebas dari biji yang berbau busuk, berbau kapan dan bulukan
d. Bebas dari serangga hidup.
e. Biji tidak lolos ayakan ukuran 3 x 3 mm.
f. Biji ukuran besar tidak lolos ayakan ukuran 5,6 x 5,6 mm.
- Pengolahan Basah Yaitu
Buah Kopi dipetik kemudian ditumbuk atau dikupas dan dicuci. Setelah itu
dikeringkan, selanjutnya dipisahkan kulit tanduknya dan kulit arinya. Pengolahan
basah dianggap selesai bila:
a. Kadar air 13
b. Kadar kotoran berupa ranting batu, gumpalan tanah dan benda asing
lainnya 0,5 %.
c. Bebas dari serangga hidup.
d. Bebas dari biji yang berbau busuk, berbau kapang dan bulukan.

Sumber : Pustaka-deptan

Ketika Air Tanah Indonesia Terancam Arsenik

Masih ingat kasus Munir, tokoh pembela HAM yang harus mati diracun arsenik? Arsenik adalah zat yang sangat beracun, yang tidak berbau dan tidak berasa; sehingga sangat berbahaya bila dikonsumsi oleh manusia, terutama bila tercampur pada air minum. Tetapi bagaimana bila arsenik kemudian beredar bebas di alam?

Studi terkini dalam Journal Nature Geoscience menunjukkan bahwa, ancaman arsenik telah mengkontaminasi beberapa wilayah di Asia Tenggara! Dari studi di delta Irrawady di myanmar dan pulau Sumatra, Indonesia, ditemukan bahwa air bawah tanah di daerah tersebut telah terkontaminasi oleh arsenik.

Studi geologi menggunakan fitur-fitur geologi dan unsur kimiawi tanah, peneliti telah memetakan beberapa titik panas yang didugan menjadi daerah resiko arsenik. Dari analisis diperkirakan ada sekitar satu juta hektar pantai timur Sumatra berisiko tercemar arsenik. Daerah yang kaya akan sedimen organik yang mengandung pasir halus sedimentasi (silt) dan tanah liat mempunyai kecenderungan untuk mudah terkontaminasi oleh arsenik. Karena merupakan sedimentasi muda yang mungkin sekali melepaskan arsenik dari dalam material sedimentasinya.

Informasi ini diharapkan menjadi perhatian bagi pihak berwenang dalam memerpsiapkan sumur-sumur atau fasilitas air yang harus memperhatikan resiko tinggi kontaminasi arsenik. Sampai saat ini studi arsenik masih sangat sulit dilakukan karena biayanya sangat tinggi dan memakan waktu yang panjang. Sampai saat ini studi yang dilakukan adalah melakukan pemetaan geologi permukaan yang mengidentifikasi pada air tanah yang dangkal, tetapi belum bisa mengatakan seberapa dalam arsenik dalam air tanah.

Disadur dari : LangitSelatan.Com

Laporan Pencanderaan

1. PENDAHULUAN.

1.1 Tujuan.

Mahasiswa diharapkan mampu :

  1. Menggambarkan bentuk morfologi suatu jenis tanaman.
  2. Dapat Menggambarkan secara sistematis gambaran ciri suatu tanaman.
  3. Mahasiswa dapat menyebutkan tife-tife pertumbuhan tanaman.

1.2 Dasar Teori.

Penyanderaan berasal dari kata candera yang berarti penampakan secara keseluruhan dari suatu benda yang tersusun atas berbagai macam ragam sifat khas suatu tanaman. J.W Moll menyebutkan bahwa penyanderaan tanaman bukan bermaksud mencatat sinyalemen dari suatu tanaman, melainkan membuat gambaran kata-kata sehingga seorangg yang membaca dapat membayangkan bentuk tanaman tersebut. Jadi dengan gambaran yang sudah ada tersebut apabila ditemukan suatu tanaman maka orang yang menemukan dapat mengenali dengan pasti walaupun sebelumnya belum pernah melihat sendiri.

Pada umumnya mencandera tanaman didahului oleh uraian sistematika tanaman yaitu dengan cara menggambarkan sifat luar yang umum (habitus) dari tumbuhan itu, kemudian uraian mengenai akar, batang, daun, dan bunga, buah, serta alat-alat yang lain yaitu dari bulu, besar dan kecilnya buah atau polong dan lain-lain.

Selain urut-urutan diatas perlu diperhatikan agar orang-orang yang membaca mengetahui dengan jelas gambaran dari kata-kata tersebut maka dalam menyandera tanaman hendaknya sebagai berikut :

a. Harus disusun secara sistematis dengan menggunakan istilah yang mudah dipahami dan dimengerti.

b. Uraian ringkas, padat dan dilengkapi dengan gambar.

Morfologi tanaman banyak dipengaruhi oleh lingkungan setempat, oleh karena itu dalam penyandraan perlu dicantumkan kondisi lingkungan setempat atau ssifat-sifat ekologi tanaman yang dicandera.

2. PELAKSANAAN KEGIATAN.

2.1 Tempat dan Waktu.

Hari : Kamis dan Jum’at

Tanggal : 10-11 Juli 2008

Tempat : Kebun Koleksi Politeknik Negeri Jember

2.2 Alat dan Bahan.

Alat :

a. Meteran

b. Pensil

c. Jangka sorong

d. Kertas HVS

e. Kaca pembesar

f. Penggaris

Bahan :

a. Tanaman kopi Arabika

b. Exelsa, dan

c. Berbagai jenis klon Robusta

2.3 Prosedur Kerja.

1. Menyebutkan nama tanaman, varietas, serta ekologi tanaman yang dicandera.

2. Melakukan penyanderaan pada tanaman yang tersedia dengan mengamati bagian – bagian berikut :

  1. Tipe tanaman
  2. Tinggi tanaman
  3. Diameter batang
  4. Warna daun
  5. Bentuk daun
  6. Panjang daun
  7. Lebar daun
  8. Warna buah
  1. Bentuk buah
  2. Ukuran buah
  3. Jumlah cabang primer, sekunder dan produktif
  4. Jumlah dompol per cabang
  5. Jumlah buah per dompol
  6. Jumlah nodia per cabang
  7. Rata-rata internodia

3. Membuat laporan

3. HASIL PENGAMATAN

3.1 Data Pengamatan

Pengamatan dilaksanakan di kebun percontohan tanaman kopi Politeknik Negeri Jember, dengan ketinggian tempat 96 m dpl.

Data dari Internet (sebagai pembanding)

KOPI ARABIKA S 795

Ciri-ciri:

Ø Tipe pertumbuhan tinggi agak melebar,

Ø daun rimbun sehingga batang pokok tidak tampak dari luar, buah seragam, biji berukuran besar tetapi tidak seragam,

Ø nisbah biji buah 15,7% berbunga pertama umur 15-24 bulan,

Ø produktivitas 10-15 kuintal/ha pada populasi 1.600 – 2.000 pohon, pada ketinggian > 1.000 m dpl., dan

Ø agak tahan penyakit karat daun, citarasa cukup baik.

426A

KOPI ARABIKA USDA 762

Ciri-ciri:

Ø Tipe pertumbuhan tinggi agak melebar,

Ø buah agak memanjang dengan ujung meruncing berjenggot, biji membulat seragam,

Ø nisbah biji buah 16,6% berbunga pertama umur 32-34 bulan,

Ø produktivitas 8-12 kuintal/ha pada populasi 1.600 – 2.000 pohon, dan

Ø agak tahan terhadap penyakit karat daun, citas rasa cukup baik

KOPI ROBUSTA KLON BP 42

Sifat-sifat agronomi:

Ø Perawakan: sedang;

Ø Percabangan: mendatar, ruas pendek;

Ø Bentuk dan warna daun: membulat besar, permukaan bergelombang sedikit, pupus hijau kecoklatan;

Ø Buah: besar, dompolan rapat, warna hijau pucat, masak merah;

Ø Biji: medium – besar, saat pembungaan agak akhir (lambat);

Ø Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 800 – 1.200.

KOPI ROBUSTA KLON BP 409

Sifat-sifat agronomi:

Ø Perawakan: besar kokoh;

Ø Percabangan: kokoh, kuat, ruas agak panjang;

Ø Bentuk dan warna daun: membulat, besar, hijau gelap, helai daun seperti belulang, begelombang tegas, pupus hijau muda;

Ø Buah: agak besar, diskus kecil runcing, buah muda beralur, masak merah hati; e. Biji: medium-besar;

Ø Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 1.000 – 2.300

KOPI ROBUSTA KLON SA 436

Sifat-sifat agronomi:

Ø Perawakan: kecil – sedang;

Ø Percabangan: aktif, lentur ke bawah;

Ø Bentuk dan warna daun: bulat telur ujung meruncing melengkung, kedudukan daun thd tangkai tegak, berwarna hijau pucat (kekuningan), pupus hijau muda kemerahan;

Ø Buah: buah kuda ada diskus kecil, dompolan sangat rapat, > 400 m dpl., masak serepak warna merah anggur, < 400 m dpl., masak tdk serempak;

Ø Biji: kecil – sedang ukuran beragam;

Ø Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 1.600 – 2.800

KOPI ROBUSTA KLON BP 234

Sifat-sifat agronomi:

Ø Perawakan: ramping;

Ø Percabangan: cabang panjang, lentur, ruas panjang;

Ø c.Bentuk dan warna daun: bulat memanjang, permukaan bergelombang nyata, pupus berbentuk membulat berwarna hijau pucat kecoklatan;

Ø Buah: agak kecil, tidak seragam, diskus kecil, warna hijau, masak merah;

Ø Biji: kecil-medium, > 400 dpl., berbunga awal, < 400 m dpl., berbunga agak akhir;

Ø Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 800 – 1.600

KOPI ROBUSTA KLON BP 534

Sifat-sifat agronomi:

Ø Perawakan: sedang;

Ø Perca-bangan: lentur ke bawah, cabang sekunder kurang aktif & mudah patah;

Ø c.Bentuk daun dan warna daun: bulat memanjang, lebar daun sempit, helai daun seperti belulan, sirip daun tegas, daun tua berwarna hijau, sering mosaik;

Ø berukuran besar, buah muda kuning pucat beralur putih, dompolan buah rapat dan lebat;

Ø Biji : sedang – besar;

Ø Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 1.000 -2.800

KOPI ROBUSTA KLON BP 358

Sifat-sifat agronomi:

Ø Perawakan: sedang;

Ø Percabangan: agak lentur, ruas agak panjang;

Ø Bentuk dan warna daun: bulat telur, memanjang, hijau mengkilap, tepi daun bergelombang lebar, pupus hijau kecoklatan;

Ø Buah: agak besar, diskus agak lebar, buah masak merah pucat belang;

Ø Biji: medium-besar;

Ø Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 800 – 1.700

4.PEMBAHASAN

Penyanderaan Tanaman Kopi

Penyanderaan berarti penampakan secara keseluruhan dari suatu benda yang tersusun atas berbagai macam ragam sifat khas suatu tanaman. Banyak yang mengiyakan bahwa penyanderaan adalah sesuatu untuk mencatat sinyalemen dari suatu tanaman atau benda yang diamati, tetapi dalam artian sesungguhnya penyanderaan sendiri bermaksud membuat gambaran kata-kata sehingga seorang yang membaca dapat membayangkan bentuk tanaman tersebut. Jadi dengan gambaran yang sudah ada tersebut apabila ditemukan suatu tanaman maka orang yang menemukan dapat mengenali dengan pasti walaupun sebelumnya belum pernah melihat secara langsung.

Sesuai dengan langkah-langkah yang telah ditentukan bahwa mencandera tanaman didahului dengan uraian sistematika. Oleh karena itu, langkah-langkah inilah yang diambil penulis dalam mencandera tanaman yang akan diamati.

Setelah ditemukan pembanding bagi tanaman yang diamati di kebun koleksi tanaman kopi Politeknik Negeri Jember dari internet ditemukan antara lain:

1. Kopi arabica

Pada kopi arabika seharusnya memiliki tipe pertumbuhan tinggi agak melebar, daun rimbun sehingga batang pokok tidak tampak dari luar, buah seragam, biji berukuran besar tetapi tidak seragam, nisbah biji buah 15,7% berbunga pertama umur 15-24 bulan, produktivitas 10-15 kuintal/ha pada populasi 1.600 – 2.000 pohon, pada ketinggian > 1.000 m dpl., agak tahan penyakit karat daun, citarasa cukup baik. Akan tetapi tanaman kopi yang tumbuh pada kebun koleksi Politeknik Negeri Jember tidak sesuai dengan pertumbuhan kopi pada umumnya.

Seperti hasil pengamatan di atas bahwa kopi arabica yang tumbuh pada kebun koleksi Politeknik Negeri Jember tidak dapat tumbuh maksimal seperti tanaman kopi pada umumnya.tanaman kopi arabika pada lahan ini tumbuh dengan ketinggian 130 cm dan daun tidak begitu lebat.

Pertumbuhan yang kurang baik ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor,yakni :

a. Ketinggian tempat yang tidak sesuai,kopi Arabica seharusnya di tanam pada ketinggian> 1000m dpl

b. Suhunya yang kurang sesuai,yang seharusnya ditanam didaerah yang sejuk dan banyak angin

c. Perawatan dan pemupukan yang kurang insentif

2. Kopi Exelca

Kopi Exelsa pada kebun koleksi kopi di Politeknik juga tidak dapat tumbuh optimal. Pada pengamatan ini diperoleh data ketinggian tanaman kopi adalah 225 cm dan diamater batang sebesar 5,78 cm.Hal ini menunjukan bahwa tanaman kopi exelsa memilki batang yang lebih besar daripada kopi arabika baik ukuran daun dan panjang buahnya pun juga lebih besar dan panjang dibandingkan buah kopi arabica. Pada pengamatan ini tanaman kopi exelca sudah tepat tanam, karena tempat tinggi yang diinginkan oleh kopi ini adalah dataran rendah.

3. Kopi Robusta

Kopi ini kecil, berbentuk payung dan tingginya mencapai tiga meter sekiranya tidak dicantas.  Daunnya lebih besar, berkerut dan tipis jika dibandingkan dengan kopi liberica. Bunganya keluar serentak dari ketiak daun, berwarna putih dan berkelompok-kelompok.

Kopi ini sesuai ditanam pada kawasan-kawasan yang mendapat curah hujan antara 1,000 mm hingga 2,500 mm. Suhu yang sesuai adalah diantara 18oC. Kopi robusta memerlukan satu jangka waktu kemarau walaupun singkat untuk melakukan pembungaan bunga. Sesuai ditanam di kawasan tanah yang tinggi tetapi untuk mendapatkan hasil yang bagus, tanaman ini ditanam pada ketinggian di antara 300 meter hingga 750 meter dpl.

Umumnya ciri-ciri tanah yang sesuai untuk penanaman kopi robusta ialah:-

· Tanah subur yang dalam, sekurang-kurangnya 1.5 meter dan tiada lapisan keras

· Banyak mengandungi bahan organik

· Tanah gembur dengan pengudaraan dan saliran yang baik

· Berkeupayaan menyimpan air

· pH tanah antara 5 hingga 6.5

Kopi robusta di kebun koleksi Politeknik Jember, sudah sesuai dengan yang ada di literatur. Contohnya pada kopi BP 358. Pada pengamatan, tanaman ini berperawakan sedang agak tinggi dengan tinggi tanaman 221 cm, dan bentuk daunnnya menyirip serta tepi daun bergelombang, sesuai dengan data yang dibandingkan.

Pada hasil pengamatan klon BP 409 bahwa memiliki perawakan yang besar dan buah yang masak merah serta bentuk daun juga sesuai dengan referensi dari internet. Pada klon ini yang memiliki batang paling besar. Sehingga cocok uuntuk dijadikan batang bawah dalam grafting.

Pada klon SA 237 tidak diperoleh referensi data dari internet. Akan tetapi dapat diketahui bahwa klon ini memiliki hasil yang paling banyak. Sehingga cocok untuk dijadikan batang atas pada saat proses grafting.

Pada klon BP 436 memiliki perawakan yang kecil. Hal ini sesuai dengan referensi yang diperoleh. Dari bentuk daun dan warna daun pun sesuai. Pada klon ini tidak begitu banyak menghasilkan buah.

Pada klon BGN 371 tidak diperoleh referensi data dari internet. Akan tetapi data yang diperoleh dapat diketahui bahwa tanaman kopi klon ini memiliki perawakn hampir sama dengan klon 436. Dan memiliki hasil yang paling minimal. Akan tetapi untuk bentuk daun hampir sama denagn klon-klon yang lain.

Pada klon BP 534 memiliki ciri-ciri yang sama denagn referensi yang ada. Klon ini memiliki perawakan yang sedang. Dan hasil yang sedang. Bentuk daun dan ukuran buah hampir sama denagn klon-klon yang lain.

Pada klon BP 234 memiliki ciri yang sama denagn referensi yakni perawakan ramping. Bentuk daun dan buah hampir sama dengan klon yang lain.

Pada klon BP 358 juga sesuai denagn referensi yakni perawakan sedang.Buah agak besar dan hasilnya pun cukup banyak.

Pengaruh Indikator terhadap Hasil Produksi

Pada pengamatan yang telah dilakukan oleh penulis dapat diketahui bahwa banyak faktor yang memengaruhi hasil produksi secara keseluruhan. Baik secara langsung maupun tidak, ada indikator yang telah diamati oleh penulis mengarah pada jumlah produksi baik secara korelasi positif maupun negatif atau malah hubungan yang terjalin tidak memengaruhi hasil produksi biji tanaman kopi.

Dari tabel perbandingan pelbagai jenis kopi yang telah diamati oleh penulis, faktor-faktor yang mungkin berkorelasi positif dengan jumlah produksi biji tanaman kopi ini antara lain :

a. Cabang produktif

b. Jumlah dompolan per cabang

c. Jumlah biji per dompolan

d. Bentuk buah

e. Ukuran buah

f. Panjang daun

g. Lebar daun

Maksudnya berkorelasi positif disini adalah semakin banyak atau panjang ukuran indikator, semakin berpengaruh terhadap peningkatan jumlah produksi tanaman kopi. sedangkan yang berkorelasi negatif adalah semakin banyak atau panjang ukuran indikator yang diukur oleh penulis, semakin besar pengruhnya terhadap sedikitnya jumlah produksi tanaman kopi. Dari tabel, dapat diperkirakan bahwa yang memiliki korelasi negatif dengan jumlah produksi tanaman kopi antara lain :

a. Tinggi tanaman

b. Rata-rata internodia

c. Jumlah nodia / cabang

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan data penagmatan yang dilakukan adalah :

a. kopi arabika yang tumbuh pada perkebunan Politeknik Negeri Jember tidak sesuai dengan standat kopi yang ada.

b. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kopi arabika, yakni: suhu/temperatur, ketinggian, dan perawatan

c. Kopi exelsa yang ada memiliki potensi yang cukup besar

d. Kopi robusta yang ada memilki pertumbuhan normal seperti referensi yang ada.

e. Indkator yang berkorelasi positif dengan jumlah produksi biji tanaman kopi ini antara lain :

· Cabang produktif

· Jumlah dompolan per cabang

· Jumlah biji per dompolan

· Bentuk buah

· Ukuran buah

· Panjang daun

· Lebar daun

f. Indikator yang memiliki korelasi negatif dengan jumlah produksi tanaman kopi antara lain :

· Tinggi tanaman

· Rata-rata internodia

· Jumlah nodia / cabang

DAFTAR PUSTAKA

Najiati, S. Danarti. 2004. Kopi Budidaya dan Penanganan Pasca Panen. Jakarta : Penebar Swadaya.

Internet.