Meraih Batas Pandang Alam Semesta


PADA Maret 2004 suatu tim astronom di European Southern Observatory yang dipimpin Roser Pell� dan Daniel Schaerer mengumumkan penemuan galaksi yang terjauh, yaitu Abell 1835 IR1916. Jarak galaksi tersebut 13,23 miliar tahun cahaya (satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun; satu detik cahaya adalah 300.000 kilometer). Pertanyaan yang muncul, bagaimana astronom dapat mengetahui jarak galaksi tersebut” Seberapa jauh kita dapat melihat alam semesta ini” Dan apa yang dapat kita lihat pada jarak terjauh itu ?

GALAKSI terjauh, Abell 1835 IR1916 (dalam lingkaran), terletak pada jarak 13,23 miliar tahun cahaya (foto dari European Southern Observatory atau ESO). Metode penentuan jarak bintang yang paling sederhana adalah metode paralaks trigonometri. Akibat perputaran Bumi mengitari Matahari, maka bintang-bintang yang dekat tampak bergeser letaknya terhadap latar belakang bintang-bintang yang jauh. Dengan mengukur sudut pergeseran itu (disebut sudut paralaks), dan karena kita tahu jarak Bumi ke Matahari, maka jarak bintang dapat ditentukan.

Sudut paralaks ini sangat kecil hingga cara ini hanya bisa digunakan untuk bintang-bintang yang jaraknya relatif dekat, yaitu hanya sampai beberapa ratus tahun cahaya (bandingkan dengan diameter galaksi kita yang 100.000 tahun cahaya, dan jarak galaksi Andromeda yang dua juta tahun cahaya). Ada metode lain yang dapat meraih jarak lebih jauh, yaitu metode fotometri.

Bayangkan pada suatu malam yang gelap Anda melihat sebuah lampu di kejauhan. Anda diminta menentukan jarak lampu itu. Ini dapat Anda lakukan asalkan Anda tahu berapa watt daya lampu itu. Dalam istilah astronomi daya sumber cahaya disebut luminositas, yaitu energi yang dipancarkan sumber setiap detik. Jarak ditentukan dengan menggunakan prinsip inverse-square law, artinya terang sumber cahaya yang kita lihat sebanding terbalik dengan jarak kuadrat. Suatu lampu yang jaraknya kita jauhkan dua kali, cahayanya akan tampak lebih redup empat kali.

Ada benda-benda langit yang luminositasnya dapat diketahui. Ini disebut sebagai lilin penentu jarak (standard candle). Salah satu lilin penentu jarak adalah bintang-bintang variabel Cepheid yang berubah cahayanya dengan irama tetap (periodik). Perubahan cahaya itu disebabkan karena bintang itu berdenyut. Makin panjang periode (selang waktu antara) denyutan, makin terang bintang itu.

Sifat tersebut ditemukan oleh astronom wanita Henrietta Leavitt pada tahun 1912. Jadi, luminositas bintang dapat ditentukan dengan cara mengukur periode denyutannya. Variabel Cepheid merupakan bintang yang sangat terang, hingga beberapa puluh ribu kali matahari, karena itu dapat digunakan untuk menentukan jarak galaksi lain.

Ada lilin penentu jarak yang jauh lebih terang lagi, yaitu Supernova Type Ia. Ini bintang meledak, terangnya telah dikalibrasi sekitar 10 miliar kali matahari. Ini lilin penentu jarak yang sangat penting karena bisa digunakan untuk menentukan jarak galaksi-galaksi yang sangat jauh. Studi tentang Supernova Type Ia ini intensif dilakukan sekarang.

Alam semesta

Sebuah mobil ambulans bergerak sambil membunyikan sirene. Bila mobil itu sedang mendekati kita, maka suara lengking sirene itu bernada tinggi. Tetapi bila mobil melewati kita dan bergerak menjauh, nada lengking menjadi rendah. Ini disebut efek Doppler. Bunyi adalah peristiwa gelombang. Pada saat sumber bunyi mendekat, waktu getarnya (frekuensinya) bertambah, maka nadanya terdengar tinggi. Tetapi bila sumber bunyi menjauh, waktu getarnya merendah.

Cahaya merupakan gelombang elektromagnet. Cahaya yang waktu getarnya cepat berwarna biru, yang waktu getarnya lambat berwarna merah. Efek Doppler juga berlaku untuk cahaya. Sebuah sumber cahaya akan tampak lebih biru bila benda tadi bergerak mendekat dan lebih merah bila menjauh.

Vesto Slipher di Observatorium Lowell, Amerika, pada tahun 1920 menunjukkan bahwa garis spektrum galaksi-galaksi yang jauh bergeser ke arah merah. Ini disebut pergeseran merah atau red shift. Artinya, galaksi-galaksi itu semuanya bergerak menjauhi kita. Dengan mengukur besar pergeseran merah itu kecepatan menjauh galaksi-galaksi itu dapat diukur.

Pada tahun 1929 Edwin Hubble di Observatorium Mount Wilson, Amerika, mendapatkan adanya hubungan antara kecepatan menjauh itu dan jarak galaksi. Makin jauh suatu galaksi, makin besar kecepatannya. Hubble mendapatkan hubungan itu linier dan menuliskannya dalam rumus V = H D dengan V = kecepatan menjauh, D = jarak galaksi dan H disebut tetapan Hubble. Dengan rumus Hubble itu dapat diperoleh bahwa semua galaksi itu dulu menyatu di suatu titik. Kapan ? Waktunya adalah t = D / V atau t = 1 / H. Pada waktu itulah terjadi big bang atau ledakan besar yang membentuk alam semesta ini.

Harga t inilah yang kita sebut sebagai umur alam semesta. Dengan mengukur tetapan Hubble H, maka umur alam semesta dapat ditentukan, yaitu sekitar 13-15 miliar tahun. Taksiran terbaik adalah 13,7 miliar tahun. Ini juga cocok dengan umur bintang-bintang tua di globular cluster (gugus bintang bola) yang ditentukan dari teori evolusi bintang, yaitu 12-13 miliar tahun.

Penemuan Hubble ini menunjukkan bahwa alam semesta kita ini sekarang mengembang. Pengembangan alam semesta dan Hukum Hubble dapat dijelaskan oleh model alam semesta Friedmann. Sebenarnya sifat alam semesta yang tidak statis ini sudah diperoleh Einstein ketika mengembangkan Teori Relativitas Umum-nya. Namun, Einstein dan banyak ahli fisika lainnya tidak memercayainya. Hanya Alexander Friedmann, seorang ahli fisika dan matematika Rusia, mengembangkan modelnya berdasarkan solusi non-static pada Teori Relativitas Umum Einstein. Ia memprediksi kemungkinan alam semesta yang mengembang pada tahun 1922, tujuh tahun sebelum Hubble menemukan hukumnya.

Dengan menggunakan hukum Hubble ini, galaksi yang dapat ditentukan pergeseran merah atau red shift-nya (dengan kata lain kecepatan menjauhnya), maka jaraknya dapat ditentukan. Galaksi Abell 1835 IR1916 pada awal tulisan ini, yang merupakan galaksi yang terjauh, ditentukan jaraknya dengan cara ini. Garis spektrum yang berasal dari hidrogren (disebut Lyman-alpha) di galaksi ini yang seharusnya berada di warna ultraviolet bergeser ke warna inframerah.

Jarak galaksi itu 13,23 miliar tahun cahaya. Bila alam semesta ini berumur 13,7 miliar tahun, berarti kita melihat galaksi itu hanya 470 juta tahun setelah big bang, sewaktu umur alam semesta baru 3,4 persen dari umurnya sekarang. Bila kita umpamakan alam semesta ini kakek berumur 80 tahun, yang kita lihat adalah balita berumur 2,5 tahun.

Bola terjauh

Seberapa jauh kita dapat melihat alam semesta” Pertama kita pahami dulu bagaimana posisi kita melihat masa lalu alam semesta. Imajinasikan kita berdiri di suatu titik dalam alam semesta. Kemudian kita bayangkan suatu bola dengan kita sebagai pusat. Katakan radius bola itu 1.000 tahun cahaya. Maka bila kita melihat benda yang berada di permukaan bola itu, berarti kita melihat benda itu pada keadaan 1.000 tahun yang lalu. Ini karena cahaya yang kita lihat (atau informasi yang kita terima) dari benda itu berangkat dari sana 1.000 tahun yang lalu.

Kita bisa membuat bola lain, kita tetap sebagai pusat, dan radius bola kita ambil jauh lebih besar, misalnya sejuta tahun cahaya. Kalau kita bisa melihat benda yang berada di permukaan bola itu, di mana pun arahnya, berarti kita melihat ke masa sejuta tahun yang lalu. Begitu seterusnya kita bisa membuat bola-bola histori alam semesta. Makin besar bola itu, makin jauh kita melihat ke masa silam.

Umur alam semesta ditaksir sekitar 13,7 miliar tahun. Maka benda terjauh yang bisa kita lihat adalah benda yang terletak di permukaan bola yang radiusnya dari kita 13,7 miliar tahun cahaya. Itulah bola terbesar yang bisa kita buat. Apa yang bisa kita lihat di situ ?

Kita tengok sebentar peristiwa sehari-hari. Pada siang hari yang berawan kita melihat langit berwarna putih. Kita tidak bisa melihat matahari yang berada di balik awan itu. Ini disebabkan karena partikel uap air di awan menyebarkan cahaya matahari. Ibaratnya, cahaya matahari “dipingpong” ke sana kemari oleh partikel uap air (disebut penyebaran Mie). Dengan begitu, kita kehilangan informasi tentang arah sumber cahaya itu, yaitu matahari. Tetapi bila ada pesawat terbang yang terbang di bawah awan, kita bisa melihatnya. Jadi, ruang di antara kita dan awan transparan, sedangkan awan tidak transparan.

Kembali ke alam semesta. Tak lama setelah big bang terjadi, alam semesta dihuni oleh partikel cahaya atau radiasi (photon), inti-inti atom ringan (yang terdiri dari proton dan neutron) dan elektron bebas. Elektron bebas bersifat menyebarkan cahaya (photon), sama seperti partikel uap air di dalam awan tadi. Jadi pada saat itu alam semesta tidak transparan, karena cahaya atau radiasi di situ “dipingpong” oleh elektron (disebut penyebaran Compton), mirip yang terjadi pada awan pada analogi di atas.

Akan tetapi, sekitar 400.000 tahun setelah big bang, proton dan elektron bergabung membentuk atom hidrogen netral. Jumlah elektron bebas berkurang. Karena partikel penyebarnya (elektron) berkurang, maka penyebaran cahaya atau radiasi juga berkurang. Jadi, alam semesta sekitar 400.000 tahun setelah big bang menjadi transparan.

Permukaan bola pada jarak 400.000 tahun setelah big bang disebut “permukaan penyebaran terakhir” atau surface of last scattering. Kalau kita melihat ke surface of last scattering (berarti ke masa 400.000 tahun setelah big bang), ibaratnya kita melihat ke awan pada analogi di atas. Yang di balik itu tidak dapat kita lihat karena alam semesta waktu itu tidak transparan. Alam semesta mulai dari surface of last scattering hingga kita transparan. Dari surface of last scattering itu kita melihat radiasi yang berasal dari big bang yang dikenal sebagai latar belakang gelombang mikrokosmik atau cosmic microwave background disingkat CMB.

Pengamatan CMB

Pada tahun 1948, ahli astrofisika kelahiran Rusia, George Gamow, mengemukakan bila kita melihat cukup jauh ke alam semesta, maka kita akan melihat radiasi latar belakang sisa dari big bang. Gamow menghitung bahwa setelah menempuh jarak yang sangat jauh, radiasi itu akan teramati dari Bumi sebagai radiasi gelombang mikro.

Pada tahun 1965, Arno Penzias dan Robert Wilson sedang mencoba antena telekomunikasi milik Bell Telephone Laboratory di Holmdel, New Jersey. Mereka dipusingkan oleh adanya desis latar belakang yang mengganggu. Mereka mengecek antena mereka, membersihkan dari tahi burung, tetapi desis itu tetap ada. Mereka belum menyadari desis yang mereka dengar itu berasal dari tepi jagat raya.

Penzias dan Wilson menelepon astronom radio Robert Dicke di Universitas Princeton untuk minta pendapat bagaimana mengatasi masalah itu. Dicke segera menyadari apa yang didapat kedua orang itu. Segera setelah itu dua makalah dipublikasikan di Astrophysical Journal. Satu oleh Penzias dan Wilson yang menguraikan penemuannya, satu oleh Dicke dan timnya yang memberikan interpretasi. Penzias dan Wilson memperoleh Hadiah Nobel untuk Fisika pada tahun 1978.

Penemuan CMB itu dikukuhkan oleh satelit Cosmic Background Explorer (Cobe) milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Pengukuran oleh satelit Cobe itu menunjukkan temperatur CMB yang hanya 2,725 derajat Kelvin (nol derajat Celsius sama dengan 273 derajat Kelvin). Satelit Cobe memetakan radiasi itu di segala arah dan ternyata semuanya uniform sampai ketelitian satu dibanding 10.000. Kalau kita mempunyai mata yang peka pada CMB, maka langit seperti dilabur putih, sama di semua arah, mulus sempurna, tidak ada noda-nodanya. Ini sesuai dengan prinsip dasar kosmologi bahwa alam semesta ini isotropik dan homogen; seragam di semua arah. Yang kita lihat adalah surface of last scattering.

Sedemikian seragamnya CMB hingga hanya alat yang sangat sensitif dapat melihat adanya fluktuasi atau ketidakseragaman pada CMB. Untuk itu, NASA telah meluncurkan satelit antariksanya, Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP), yang lebih cermat daripada Cobe untuk mempelajari fluktuasi itu. Dengan mempelajari fluktuasi itu, diharapkan kita dapat mengetahui asal mula galaksi-galaksi dan struktur skala besar alam semesta dan mengukur parameter-parameter penting dari big bang.

Sumber : Kompas (30 April 2005)

Demi Matahari


Entah mengapa, tiba-tiba surah al-Syams menancap kuat di benak saya. Dan saya yakin, 150-an peserta Training ESQ Profesional Angkatan 21 Banjarmasin mengalami hal yang sama. Kalimat “Wasyamsi wadhuha ha…” itu diterjemahkan dan menjadi ciri khas para alumni ESQ. Bagaimana tidak, setiap awal sesi, trainer kami (Legisan Sugimin) selalu mengawali presentasi dengan potongan ayat itu.

Saya baru saja pulang dari sebuah petualangan religius dan spiritual. Selama tiga hari (Jumat-Ahad, 4-6 Mei 2007), saya mendapat pengalaman yang cukup spektakuler. Bertempat di Hotel Banjarmasin International (HBI) Banjarmasin, tepatnya di Himalaya Ball Room, sekitar 200 orang berkumpul untuk bersama menikmati “karya ilmiah” yang disusun oleh spiritualis modern Indonesia: Ary Ginanjar Agustian.

Jika harus mengurai ilmu yang dijelaskan, jelas saya tidak akan sanggup. Selama 3 x 12 jam, mata, otak dan hati seluruh peserta dibombardir dengan keagungan Tuhan. Kenyataan ilmiah, bukti ayat Tuhan (qauliyyah—al-Quran dan kauniyah—alam semesta raya), dilengkapi dengan multi media yang menghabiskan 50.000 watt, tak mampu saya gambarkan melalui tulisan ini.

Saya rasa, jika Anda hanya membaca buku karya Ary Ginanjar tentang ESQ-pun tidak akan lengkap memahami petualangan spiritual itu. Saya sarankan, jika Anda juga ingin mendapatkan pencerahan spiritual itu, ikutilah pelatihan ESQ. Di setiap kota sudah ada cabangnya. Bahkan ESQ sudah go international, sudah pernah diadakan di beberapa kota di dunia, baik Eropa, Amerika, Asia maupun Afrika.

Hanya saja, memang harga pelatihan agak mahal. Semoga masalah biaya ini bisa dipertimbangkan oleh korporasi yang mengurusinya. Sangat sayang jika “pencerahan” ini hanya dinikmati orang-orang berdompet tebal.

Saya tidak akan menceritakan kembali apa yang dituturkan oleh trainer kami, Mr. Legisan Sugimin, seorang pemandu spiritual yang luar biasa itu. Tapi, saya ingin menggambarkan momentum menarik yang cukup berbekas di benak dan terekam secara jelas dalam memori. Yang paling teringat jelas adalah multi media yang digunakan. Untuk dua hari pertama ada dua layar selebar 2 x 3 m yang diletakkan di depan kami, di hari ketiga satu layar 3 x 4 ditambahkan. Selain itu, sound system berkekuatan 50.000 watt bersuara menggelegar di telinga, namun tidak membuat gendang menjadi sakit.

Berikutnya, ustadz Legisan Sugimin memberi penjelasan tentang tata surya. Bagian langit yang padat bintang dan tampak semarak di kala langit cerah sekali–di Indonesia dikenal dengan sebutan Bimasakti. Hamparan bintang itu keseluruhannya tampak bagaikan ban yang mengelilingi bumi. Dalam era astronomi modern analisis bintang-bintang itu menyebar membuktikan bahwa sekitar 400 ribu juta bintang, termasuk di dalamnya Matahari, berada dalam satu tatanan. Bimasakti adalah suatu pulau bintang dan tatasurya kita berada di dalamnya. Bentuk tatanan itu mirip sekali dengan sebuah cakram yang bergaris tengah 100 ribu tahun cahaya atau 950 ribu trilyun km. Di jaman dahulu orang Yunani menamakan Bimasakti dengan sebutan Galaksi, orang sekarang mengartikan galaksi sebagai suatu tatanan atau pulau bintang.

Di luar galaksi Bimasakti terdapat banyak sekali galaksi lain, berada dalam kelompok-kelompok yang disebut gugus galaksi. Sekitar 18 galaksi yang berada dalam satu gugus dengan Bimasakti disebut Gugus Lokal. Galaksi-galaksi itu ada yang berbentuk spiral, spiral bergaris, ellipsoid, mirip bola dan ada pula yang tidak teratur. Kenyataannya gugus-gugus galaksi itupun cenderung terkelompok-kelompok dalam gugus-gugus besar.

Selain berputar pada porosnya masing-masing, galaksi bergerak saling menjauhi, menunjukkan bawa di jaman dahulu saling berdekatan dan bahwa pada suatu waktu berawal dari suatu gumpalan pada 15 milyar tahun lalu meledak, menyebabkan energi tersebar dan membentuk ruang yang makin lama makin besar, galaksi-galaksi terbentuk dan bergerak karena dorongan tenaga dari pusat ledakan itu sampai sekarang. Teori ledakan itu dikenal dengan sebutan teori Big Bang. Sampai di sini, trainer memberi tekanan: al-Quran sudah menceritakan hal ini seluruhnya, 14 abad yang lampau. Maha benar Allah, dengan segala firman-Nya.

Selanjutnya, coba kita simak tulisan seorang ESQ-er dari Amsterdam Belanda berikut ini, setidaknya bisa mewakili perasaan saya dan seluruh peserta ESQ. :

99 Asma Allah dan 99 Pasang Mata

Demi matahari dan sinarnya di pagi hari
Dan bulan apabila ia mengelilingi

Dan siang apabila ia menerangi

Dan malam apabila ia menutupi

Dan langit beserta segala binaannya

Dan bumi beserta segala yang di permukaannya

Dan jiwa beserta penyempurnaannya.

Allah mengilhami sukma kebaikan dan keburukan
Beruntunglah mereka yang mensucikannya
Dan
merugilah mereka yang mengotorinya

Di sebuah pagi, air mata tumpah dari 99 pasang mata. Setelah 25 tahun, 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun, dan bahkan 60 tahun, sang pemilik baru menyadari betapa selama ini dirinya belum ‘mengenal’ siapa dirinya dan siapa yang selama ini disembahnya. Dalam setiap sholat, mereka mengaku bahwa “Allah Maha Besar”. Namun Ka’bah yang bersemayam di dalam hatinya masih penuh dengan berhala yang mereka ‘besar’-kan: keangkuhan, keakuan, kesombongan, kepandaian, kecantikan, kekayaan, jabatan, anak, … Sungguh mereka akan ngeri jika bisa melihat ‘wujud’ non-fisik dari berhala yang mereka pelihara. Sungguh menyeramkan. Selama ini pengakuan tersebut adalah pengakuan yang bohong!

Bagaimana jika sehari sebelumnya mereka sudah dimasukkan ke liang lahat? Dikubur bersama berhala-berhala yang selama hidup disembahnya dengan penuh perhatian, curahan waktu, perjuangan yang keras? Bukankah belum dikatakan beriman jika dalam hati mereka masih ada setitik kesombongan? Air mata pun tumpah dalam ketakutan akan dipanggilNya sementara Ka’bahnya masih dihuni oleh berbagai berhala.

Kedua mataku ada di antara pasangan mata itu. Dan mata hatiku ada di antara hati-hati yang diperlihatkan segala perbuatan yang selama ini telah dikerjakan oleh kedua tangan dan kakinya. Kesombongan pikiran, kerendahan nafsu pandangan, kemalasan dan kekosongan selama menghadapNya, kelalaian, satu per satu diputar dalam layar ingatan.

Tangan dan tubuhku bergetar seperti dawai gitar yang dipetik. Mulutku terbuka kuat seolah ada sebuah tangan besar sedang masuk dan mencari sampah dalam dadaku yang terangkat. Kulihat bumi yang kupijak, udara yang kuhirup, air yang membasuh tubuhku, semua memuji Sang Pencipta dengan nama-namaNya yang mulia: Yaa Wakiil (Maha Pemanggul), Yaa Hayyu (Maha Hidup), Yaa Muhyii (Maha Menghidupkan). Sungguh, kulihat kekuasaanNya selalu melingkupiku. Aku tidak bisa lari dari Nya. Namun apa yang selama ini aku perbuat tepat di depan MataNya? Allaaaaaaaaaaaaaahh.. aku malu padaMu… Allaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah… Aku tersungkur serendah-rendahnya.

***

Copernicus digantung karena melawan pendapat gereja waktu itu. Dia sampaikan bahwa bumi yang dipijak manusia bukanlah pusat alam semesta. Bumi berputar mengelilingi matahari.

Sementara itu, ratusan tahun sebelumnya, seorang yang ummi dari padang pasir menyampaikan kepada kaumnya tentang perputaran dan garis edar bumi, tentang bersatunya bumi dan langit yang kemudian dipisahkan, tentang sebuah ledakan hebat yang menampilkan pemandangan indah seperti mawar merah.

Apa yang dikatakan orang-orang kepadanya waktu itu? “Sungguh, kau idiot, kau pembohong!” Jika aku hidup di jamannya, dengan berhala yang masih bersemayam dalam ka’bahku, mungkin aku termasuk orang-orang yang bicara begitu kepadanya. Bersyukur aku hidup sekarang, tatkala semua yang disampaikan sudah dibuktikan oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Aku tidak mengatakannya. Namun, dimana aku tempatkan kitab yang berisi kebenaran itu di hatiku? Hatiku penuh berhala. Hatiku diisi dengan rasa diri sudah benar, dan kadang merasa paling benar. Bukankah ini sama saja dengan bilang, “itu semua bohong”?

***

Sungguh, semua yang ada di langit dan di bumi bersujud dan bertasbih kepadaNya dalam keadaan suka rela atau terpaksa. Manusia berjalan di atas bumi mengelilingi ka’bah. Bulan berputar mengelilingi bumi. Bumi berputar mengelilingi matahari. Matahari berputar mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti. Galaksi juga berputar mengelilingi pusat milyaran galaksi. Dalam atom-atom yang membentuk kulit, tulang, mata, rambut manusia, semua elektron berputar mengelilingi inti atom. Semua berputar dalam orbitnya. Semua bertasbih: Yaa Muhaimin (Maha Memelihara), Yaa Qohhaar (Maha Perkasa), Yaa Baari’ (Maha Menata), Yaa Qoobidh (Maha Pengendali), Yaa Waasi’ (Maha Luas), Yaa Kabiir (Maha Besar), …

Namun apa yang dilihat oleh kedua mataku? Hanya benda-benda astronomi yang ukurannya masif (luar biasa besarnya)? Hanya atom, elektron, nuon, dan nama-nama keren fisika? Hanya ukuran-ukuran super duper mega seperti jarak trilyunan tahun cahaya? Dan tak pernah mata hatiku melihat semua itu bertasbih kepadaNya seperti yang ditulis dalam kitab? Tak pernah hati ini tergetar melihat jumlah dan ukuran yang tak terbayang itu, dan tak pernah bola mata ini menitikkan kekaguman kepada Penciptanya? Diriku yang seukuran debu pun tak akan tampak jika dilihat dari ujung lain bumi, apa lagi dari ujung galaksi, mengapa selalu merasa urusannya melebihi alam semesta? Merasa paling benar dan bersikukuh dengan egonya? Sungguh diri ini tak mengenal siapa dirinya. Bagaimana dia bisa menjadi pemimpin manusia jika tentang dirinya saja dia tidak tahu? Atau bagaimana dia bisa dengan sombongnya merasa pikirannya benar dan harus diikuti orang lain sementara pengetahuan tentang dirinya sendiri tidak benar?

***

Betapa diriku belum mengenal dirinya sendiri. Seperti orang gila yang tidak mengerti apa yang diucapkannya. Sebuah percakapan yang sangat agung dan paling istimewa diucapkannya dengan lalai setiap hari:

Dalam sebuah malam yang mulia, sang utusan menghadap Tuannya. Diucapkannya salam dengan penuh rindu dan cinta: “Segala keselamatan, barokah, kebahagiaan, dan kebaikan hanyalah bagi Tuanku.”

Sang Tuan yang juga penuh rindu dan cinta menjawab salam sang kekasih, “Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu, wahai kekasihKu, berserta rahmat dan berkatNya.”

Sang utusan yang berhati mulia, meski berjarak trilyunan tahun cahaya, tak pernah melupakan umatnya yang masih terlelap di bumi, “Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami dan juga kepada hamba-hambaMu yang soleh-soleh.”

Para makhluk cahaya yang menyaksikan percakapan itu terharu melihat kemurahan Sang Tuan dan kemuliaan sang utusan. Mereka pun serentak mengucapkan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya.”

Kemudian manusia di bumi mengucapkan shalawat kepada sang utusan.

Namun, apa yang terlintas dalam hati dan pikiranku kala setiap hari kuucapkan percakapan agung itu? Bukankah aku tiada beda dengan orang-orang yang sakit jiwanya, tidak mengerti apa yang mereka ucapkan? Bagaimana bisa diriku yang sakit ini bisa merasa begitu benar dan urusannya melebihi luasnya alam semesta?

Yaa Rohman, Yaa Rohiim… sungguh Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan ijin dan hidayah dariMu, diri ini bisa mengenal dirinya. Dan pada tanggal 14 Mei 2006, air mata terakhir dari 99 pasang mata itu tumpah, dalam sebuah sujud syukur. Engkau pun berkata, “HambaKu telah kembali memanggilKu.”

Ditulis dalam Islamic. Leave a Comment »

Rupiah Stagnan

Sepinya sentimen segar yang beredar di pasar membuat rupiah nyaris tidak bergerak. Pada awal perdagangan Senin (14/4) pagi ini rupiah diperdagangkan sama dengan posisi penutupan akhir pekan lalu, yakni di level Rp 9.190 per dolar Amerika.

Analis valas dari Integral Investama Dus Nanggang mengatakan, sepinya sentimen di pasar membuat rupiah hanya diperdagangkan di kisaran sempit sejak dua pekan terakhir. Rentang perdagangan rupiah yang terbentuk di pasar hanya sebesar 50 basis poin.

Menurut Dus, hingga saat ini masih belum ada faktor fundamental penggerak rupiah. Namun demikian, hasil pertemuan G-7, pekan lalu, memberikan sinyalemen positif kepada dolar Amerika, sehingga pergerakan rupiah hari ini diprediksi akan cenderung melemah di kisaran Rp 9.180 hingga Rp 9.230 per dolar.

Dus Nanggang menilai, pelaku pasar terlihat sangat hati-hati dalam melakukan transaksi. Namun, aksi lepas mata uang berimbal hasil tinggi mulai terjadi. Jika ini terus berlanjut dipastikan akan membuat rupiah semakin terpuruk.

Namun, Dus Nanggang menegaskan, Bank Indonesia akan tetap mengawal rupiah di pasar. Jika pelemahan rupiah tetap terjadi, maka pelemahan tersebut bisa ditahan dan ditekan serendah mungkin.

SAD Indonesia Dikalahkan River Plate 0-2

rivber.gif

Tim SAD Indonesia harus mengakui keunggulan tuan rumah River Plate dengan skor 2-0 dalam lanjutan pertandingan Liga Uruguay U-17 (Quinta Division) 2008, Sabtu(12/4). River Plate adalah pemuncak klasemen Quinta Division dengan catatan gol fantastis 22-0 dalam 4 pertandingannya.

Meski kembali menderita kekalahan untuk yang ketiga kalinya, secara umum permainan tim asuhan Cesar Payovich sudah lebih baik dari sebelumnya. Sayang, dalam pertandingan ini, Indonesia gagal memanfaatkan sebuah pelung dari tendangan penalti.

Tim SAD Indonesia sebelumnya pernah bertemu dengan River Plate dalam laga uji coba bulan Januari lalu. Kala itu, Syamsir Alam dkk juga menyerah dengn skor yang sama, 2-0.

Pelatih Cesar Payovich menegaskan bahwa Syamsir Alam dkk sudah mulai berada dalam trek permainan yang diinginkan dan mampu memainkan skema permainan dengan baik. Sisi Aerobik pemain sudah mulai membaik meski masih lemah dalam ‘power dan jump’.