cintaSore ini kepikiran 1 orang yang dari 8 tahun sampai sekarang masih bertahan di kepalaku ini. Yah sebenarnya beberapa hari lalu orang itu sempat ngubungi, cuma ya begitulah ujung-ujungnya stagnan. Kenapa stagnan? Dari dulu sampai sekarang orang itu bisa buat aku stagnan dengan dirinya meskipun silih beganti musim berganti (edisi korea mendayu2). Biasanya aku pake nama beneran kali ini kita sebut aja dia “Bunga” karena sering dipakai kebanyaka orang untuk melukiskan sesuatu yang INDAH.

8 tahun yang lalu, cerita ini bermula ketika aku baru aja dapat kabar kalau aku berhasil mewakili kabupaten Pangkalan Bun tempat aku tinggal dari kecil untuk kompetisi OLIMPIADE Astronomi di Provinsi Kalimantan Tengah. Nah dari 1 sekolah alhamdulillah berhasil 5 orang, 1 dari Fisika, 1  dari Ekonomi, 1 dari Biologi dan 2 termasuk aku dari Astronomi. Paginya juga aku dan keempat orang temanku dapat undangan dari Dinas Pendidikan untuk mengikuti briefing. Kebetulan juga beberapa bulan sebelum itu aku baru aja putus dari pacar pertamaku -yah masih sakit hati dikit lah, secara-. Awalnya aku dan teman-teman sich biasa, karena aku gak punya ekspektasi yang tinggi sama perlombaan ini, karena ya begitulah galau.

Di situlah aku bertemu dengan orang itu, awalnya aku berpikir siapa cewek ini kok bareng sama kepala sekolah SMPku dulu, Pak Sumardi (otomatis dia juniorku lah). Secara kami SMA semua, kenapa dia SMP juga ikut, taruh dimana ini muka. Tapi semua berubah seketika, wah first sight love kah ini?? Why?? tiba-tiba aja aneh melihat dia, seakanakan lihat diriku sendiri. Orang yang keras kepala, gak mudah percaya, gak mudah beradaptasi, dengan bentuk versi cewek dengan penampilan cantik sedikit cute lah.. Hahaha (dimarahin kalo gak diselipin cute,agan2). Baru dari situ aku baru sadar dia lebih istimewa, dia pegang matematika coy, ngalahin orang-orang lebih tua ketimbang dia untuk bidang itu (tahukan betapa memuakkannya matematika, mana soalnya OLIMPIADE lage). Gila bener ini cewek.

Singkat cerita aku sama Bunga kenalan waktu kami perlombaan di Palangka Raya, dan dari situ juga kami mulai akrab, seakan-akan kami udah lama kenalnya. Why?? Mungkin 1 sifat kali, jadi mudah banget bergaulnya. Makan bareng, nyantai bareng, belajar juga bareng, hahaha.. ketawa juga kalo diingat waktu itu. Cuma bertahan 2 hari kami juga harus berpisah karena memang cuma 2 hari doank perlombaannya, sayang sekali sudah pulang waktu itu, tapi aku sudah dapat nomor teleponnya (edisi cengar-cengir).

Mulai dari situ aku dekat dan lebih intim sama Bunga, termasuk dia bertanya padaku ingin masuk SMA 2, tapi karena gak ada ayng ngantar dia pulang akhirnya dia lebih memilih SMA 1 karena lumayan dekat dari rumahnya (sebenarnya juga gak begitu dekat-dekat amat dengan SMA 1, edisi dongkol2 tahu kenyataan dia milih SMA 1 ketimbang SMA 2). Aku sempat menawarkan untuk mengantarkan dia pulang pergi dari SMA 2, akan tetapi mau gimana lagi. tahukan kenapa dia keras kepala? yah begitulah dia, sama dengan yang nulis. Cerita laen yang gak sengaja antara kami adalah ketika aku tahu rumahnya.Waktu itu aku berkunjung ke perpus daerah (kayak orang pintar aja ke perpus), yah buat cari buku untuk nyelesaikan karya tulis yang udah hampir deadline waktu itu. Malamnya sich juga sempat smsan sama dia kalo rumahnya dekat dengan pengadilan daerah, perpus daerah kebetulan disebelahnya pengadilan. Sambil termenung-menung buat nyari rumahnya waktu itu, rupanya sudah waktunya tutup ini perpus. Gak sengaja setelah keluar dri perpus dengan motor kesayanganku waktu itu “legenda”, aku ketemu Bunga dengan bapaknya pulang dari sekolahnya SMA 1. ya otomatis karena aku juga pengen tahu, tapi waktu itu juga dia sempat ngeliat aku keluar dari perpus, jadi langsung aja dia marah tahu aku ikutin.

“Oooooh ini rumahnya. Dengan begitu aku bisa maen-maen kesini lage kapan-kapan. hahaha” gumamku dalam hati. Gumaman itu sambil tersenyum karena dia udah menyilangkan tangan tahu aku udah didepan rumahnya, untung cuma lewat gak mampir. Yah sejak itu aku kadang-kadang maen dengan harapan bisa dekat sama keluarganya.

Untuk cerita selanjutnya besok ye yang lebih panjang dan lebih bermakna… Masih panjang kok ini cerita… ^^

Disusun Oleh : Ardito Atmaka Aji, SST

Tugas Mata Kuliah Kewirausahaan Kelembagaan Untuk Bisnis Berkelanjutan

Institute Pertanian Bogor

1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tembakau merupakan komoditas bernilai ekonomis tinggi sebagai bahan baku yang dibutuhkan oleh industri rokok dan cerutu, sehingga perannya dalam perekonomian nasional sangat tinggi. Sumber-sumber penerimaan negara yang berasal dari tembakau dan industri hasil tembakau berupa cukai dan devisa ekspor. Cukai berasal dari pajak penjualan rokok dan cerutu, sedangkan devisa berasal dari pajak ekspor tembakau, rokok dan cerutu. Penerimaan negara yang berasal dari cukai meningkat dari tahun ke tahun. Tembakau juga berfungsi sebagai penyerap tenaga kerja perkebunan yang cukup tinggi di Indonesia (Rachman, 2007).

Komoditi tembakau juga merupakan komoditi yang kontroversial yaitu antara manfaat dan dampaknya terhadap kesehatan, sehingga dalam pengembangannya harus mengacu pada penyeimbangan supply dan demand. Pertembakauan dewasa ini dihadapkan pada berbagai permasalahan, antara lain isu dampak merokok terhadap kesehatan baik di tingkat global oleh WHO sebagaimana tertuang dalan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dan di tingkat nasional pengendalian produk tembakau tertuang dalam PP No.19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Dengan adanya PP tersebut petani tembakau merasa terganggu karena berpandapat bahwa produksi tembakau mulai dibatasi. PP tersebut dirasa tidak berpihak pada kepentingan petani tembakau. Selain itu, Industri Hasil Tembakau (IHT) juga dihadapkan pada masalah kebijakan cukai yang tidak terencana dengan baik, tidak transparan dan lebih berorientasi pada upaya peningkatan pendapatan negara tanpa mempertimbangkan kemampuan industri rokok dan daya beli masyarakat ditambah dengan maraknya produksi dan peredaran rokok ilegal.

Oleh karenanya diperlukan peranan dari Lembaga Kewirausahaan independen yang dapat memberikan solusi-solusi strategis sehingga tidak merugikan salah satu stakeholder terkait dengan keberlanjutan agribisnis tembakau di masa depan.

 1.2  Permasalahan Agribisnis Tembakau

Adapun beberapa permasalahan terkait dengan perkembangan Agribisnis Tembakau diantaranya :

1.2.1 Bahan Baku

1)      Mutu tembakau yang belum memenuhi standar pabrik;

2)      Ketidakseimbangan jenis pasokan dan jenis kebutuhan tembakau;

3)      Pelaksanaan sistem kemitraan, khususnya tembakau rakyat belum berjalan dengan baik;

4)      Berfluktuasinya harga tembakau dunia.

1.2.2 Produksi

1)      Kurangnya penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) khususnya pada industri kecil;

2)      SNI produk olahan tembakau tidak sesuai dengan perkembangan teknologi;

3)      Rendahnya tingkat produktivitas dan efisiensi;

4)      Kurangnya kemampuan industri pengolahan tembakau untuk melakukan diversifikasi produk dengan resiko kesehatan yang rendah.

1.2.3 Pemasaran

1)      Terbatasnya akses pasar luar negeri;

2)      Regulasi di daerah yang kurang disosialisasikan;

3)      Traktat International Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control–FCTC) cenderung membatasi konsumsi produk hasil tembakau;

4)      Beredarnya rokok ilegal;

5)      Kebijakan cukai yang kurang terencana dan kondusif bagi industri pengolahan tembakau;


2. ISI

2.1 Stakeholder Agribisnis Tembakau

2.1.1 Pemerintah

Pemerintah memiliki kepentingan dalam pembuatan dan pengawasan regulasi utamanya mengenai peraturan tarif cukai rokok serta peraturan-peraturan lainya dalam agribisnis tembakau. Seringkali dalam pembuatan peraturan/regulasi, pemerintah tidak melibatkan seluruh stakeholder yang berperan dalam aktifitas agribisnis tembakau. Akibatnya selalu ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Contoh riilnya pada PP No.19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Peraturan ini ditentang oleh APTI karena merasa produksi tembakau mereka dibatasi oleh pemerintah.

2.1.2        Lembaga Penelitian dan Pengembangan

Dalam agribisnis tembakau, lembaga penelitian dan pengembangan selayaknya dapat memberikan solusi berupa hasil penelitian yang dapat menjadi jawaban ditengah gempuran isu kesehatan. Artinya diversifikasi produk agribisnis tembakau harus terus dikembangkan untuk memecahkan permasalahan kesehatan ini. Disamping itu penelitian dan pengembangan juga harus diarahkan untuk mencapai efektifitas dan efisiensi produksi tembakau. Adapun stakeholder yang terlibat dalam aktifitas ini diantaranya: Perguruan Tinggi, Unit Pelaksana Teknis Pengujian Sertifikasi Mutu Barang dan Lembaga Tembakau, Balittas (Balai Penelitian Tanaman Serat).

2.1.3 Forum Komunikasi

Forum komunikasi memiliki peran sebagai media penghubung antara stakeholder dalam aktifitas agribisnis tembakau. Dalam forum ini sangat diperlukan sentuhan teknologi. Infrastruktur teknologi yang bagus akan menjamin bahwa komunikasi berjalan efektif dan efisien. Pemerintah tentunya harus mendorong dan memfasilitasi forum komunikasi agar lebih terdorong maju. Sehingga mengurangi ketertinggalan IT dari negara-negara maju. Adapun stakeholder yang terlibat dalam aktifitas ini diantaranya: Working Group,Forum Komunikasi, Fasilitator Klaster.

2.1.4 Perusahaan Jasa (Industri Terkait)

Perusahaan jasa dan industri terkait memiliki peran dalam membantu proses produksi, distribusi, dan pemasaran produk-produk tembakau. Perbankkan dan perusahaan asuransi dapat membantu petani dalam memperoleh modal usaha sehingga dapat memperlancar proses produksi tembakau. Kewirausahaan lembaga tentunya dapat membantu dalam hal menyosialisasikan kepada petani agar mereka mengerti dan membantunya dalam memperoleh permodalan tersebut. Adapun stakeholder yang terlibat dalam aktifitas ini diantaranya: Jasa Perbankan, Jasa Transportasi, Jasa Perdagangan, dan Jasa Asuransi.

2.1.5         Asosiasi Pertembakauan

Asosiasi Pertembakauan memiliki peran sebagai wadah untuk menampung dan menyampaikan aspirasi anggota organisasi kepada pemerintah. Asosiasi ini berperan sangat strategis dalam pembuatan dan memberi masukan terhadap kebijakan yang dibuat. Adapun stakeholder yang terlibat dalam aktifitas ini diantaranya: GAPPRI (Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia), GAPRI (Gabungan Pengusaha Rokok Indonesia), GAPRINDO (Gabungan Pengusaha Rokok Indonesia), APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) dan ITA (International Trade Administration).

2.1.6 Industri Hasil Tembakau (IHT)

Industri hasil tembakau ini memiliki peran mengolah produk tembakau menjadi produk setengah jadi atau produk jadi. IHT inilah yang membayar cukai kepada negara. Dewasa ini industri rokok juga sudah melakukan program-program CSR yang sangat membantu masyarakat Indonesia. Adapun stakeholder yang terlibat dalam aktifitas ini diantaranya: Industri Hulu (Industri Pengeringan dan Pengolahan Tembakau, yaitu kegiatan usaha dibidang pengasapan dan perajangan daun tembakau), Industri Antara (Industri Bumbu Rokok serta kelengkapan lainnya, meliputi tembakau bersaus, bumbu rokok dan kelengkapan rokok lain seperti klembak menyan, saus rokok, uwur, klobot, kawung dan pembuatan filter), dan Industri Hilir (Industri Rokok Kretek, Industri Rokok Putih dan Industri Rokok lainnya, meliputi cerutu, rokok klembak menyan dan rokok klobot/kawung).

2.2      Upaya Penyelesaian Masalah

Beberapa upaya penyelesaian permasalahan diatas telah dilakukan melalui tindakan-tindakan sebagai berikut:

1)      Peningkatan pengelolaan permintaan (pengembangan pasar baru, penetrasi pasar, pengembangan produk, riset pasar, pengembangan jalur distribusi, respon cepat kepada konsumen).

2)      Peningkatan produksi dan teknologi (Supply Chain Management, manajemen sumberdaya).

3)      Teknologi Informasi (peningkatan produktivitas, pengembangan mutu sesuai standar yang berbasis teknologi informasi).

4)      Peningkatan keterampilan, profesionalisme dan kompetensi (pengembangan dan perencanaan SDM).

5)      Strategi pemasaran melalui periklanan.

6)      Strategi pengembangan produksi rokok rendah tar dan nikotin.

2.3 Analisa Dampak Permasalahan

Walaupun telah dilakukan beberapa upaya penyelesaian masalah, akan tetapi pada praktiknya tetap terjadi persinggungan kepentingan. Konflik antara stakeholder pro rokok dan yang menentang beredarnya rokok tetap terjadi. Jika konflik ini terus terjadi maka akan berpotensi kepada matinya industri tembakau dalam negeri yang notabene juga merupakan penggerak perekonomian. Oleh karenanya diperlukan Lembaga yang mampu menampung aspirasi masing-masing stakeholder dan memberikan solusi-solusi strategis sehingga tidak merugikan salah satu stakeholder terkait dengan keberlanjutan agribisnis tembakau di masa depan. Pendekatan kelembagaan merupakan pendekatan yang sesuai untuk menciptakan rantai bisnis berkelanjutan. Oleh karernanya pembentukan kelembagaan kewirausahaan independen perlu di lakukan. Kelembagaan kewirausahaan independen ini dapat mengurangi kecurigaan untuk lebih cenderung ke kepentingan salah satu stakeholder. Kewirausahaan Lembaga diharapkan mampu mempertemukan stakeholder-stakeholder yang terkait dengan agribisnis tembakau untuk duduk bersama dan mencari solusi permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi.

 2.4 Usulan Penyelesaian Permasalahan Pendekatan Komunikasi Lembaga Bisnis Berkelanjutan

Munculnya Kewirausahaan Lembaga harus memiliki visi Terwujudnya Industri Hasil Tembakau yang kuat dan berdayasaing di pasar dalam negeri dan global dengan memperhatikan aspek kesehatan. Dalam rangka tercapainya sasaran tersebut, tindakan pengembangan harus diarahkan pada:

1)      Penciptaan kepastian berusaha dan iklim usaha yang kondusif.

2)      Pertumbuhan dalam jangka pendek diutamakan untuk IHT menggunakan tangan (SKT).

3)      Peningkatan mutu bahan baku dan produk olahan.

4)      Peningkatan ekspor.

5)      Penanganan rokok ilegal.

6)      Pemberlakuan cukai yang terencana, kondusif dan moderat.

7)      Mengadakan Workshop Pengembangan Klaster Pengolahan Tembakau  dilakukan bersama stakeholder terkait dalam rangka sosialisasi klaster pengolahan tembakau

8)      Pelatihan Teknis Pengolahan Tembakau bagi aparat pembina dan pengusaha

9)      Melakukan komunikasi dan kerjasama dengan perusahaan mitra tembakau

10)  Melakukan upaya pertumbuhan industri pengolahan tembakau lokal (tembakau iris dan industri rokok skala kecil)

11)  Melakukan upaya penumbuhan wirausaha baru dibidang industri pengolahan tembakau melalui kegiatan magang di beberapa pabrik rokok

12)  Bantuan permodalan bagi para pelaku usaha komoditas tembakau.

13)  Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif, berimbang dan berkelanjutan dengan melibatkan industri dan stakeholder.

14)  Peningkatan inovasi teknologi proses pengolahan tembakau.

15)  Pengembangan produk IHT yang beresiko rendah bagi kesehatan (rendah tar dan nikotin).

16)  Peningkatan Social Responsibility Program/SRP bagi perindustrian pengolahan tembakau.

17)  Mengembangkan diversifikasi produk IHT.

2.5 Tantangan dan Alternatif Solusi Yang Harus Dilakukan Kewirausahaan Lembaga Bisnis Berkelanjutan

Tantangan :

Input Supply Production Trading Processing Consumption
Tantangan
  • Infrastruktur penunjang yang belum optimal
  • Mutu tembakau yang belum memenuhi standar pabrik atau SNI
  • Ketidakseimbangan jenis pasokan dan jenis kebutuhan tembakau
  • Belum optimalnya peran sistem kemitraan petani tembakau yang berkelanjutan dengan industri pengolahan tembakau
  • Berfluktuasinya harga tembakau dunia
  • Isu lingkungan dan Gerakan Anti Rokok (dunia/global dan dalam negeri)
  • Adanya pengawasan secara global terhadap tembakau dan olahannya melalui ketentuan FCTC
  • Pergeseran selera konsumen cerutu besar ke cigarillo
  • Rendahnya tingkat produktivitas dan efisiensi
  • Isu lingkungan dan Gerakan Anti Rokok (dunia/global dan dalam negeri)
  • Pergeseran selera konsumen cerutu besar ke cigarillo
  • Adanya pengawasan secara global terhadap tembakau dan olahannya melalui ketentuan FCTC
  • Belum optimalnya Perda yang mengatur tataniaga tembakau cerutu
  • Terbatasnya akses pasar luar negeri
  • Regulasi di daerah yang kurang disosialisasikan
  • Belum optimalnya Perda yang mengatur tataniaga tembakau cerutu
  • Kebijakan cukai yang kurang terencana dan kondusif
  • Isu lingkungan dan Gerakan Anti Rokok (dunia/global dan dalam negeri)
  • Adanya pengawasan secara global terhadap tembakau dan olahannya melalui ketentuan FCTC
  • Tindakan proteksionisme di beberapa negara tujuan ekspor, terutama pada negara-negara maju
  • Kurangnya penerapan Good Manufacturing Practices (GMP)
  • Produk olahan belum memenuhi SNI
  • Kurangnya diversifikasi produk dengan resiko kesehatan yang rendah
  • Isu lingkungan dan Gerakan Anti Rokok
  • Kebijakan cukai yang kurang terencana dan kondusif
  • Persaingan bisnis industri skala kecil dan menengah
  • Pergeseran selera konsumen cerutu besar ke cigarillo
  • Adanya pengawasan secara global terhadap tembakau dan olahannya melalui ketentuan FCTC
  • Isu lingkungan dan Gerakan Anti Rokok (dunia/global dan dalam negeri)
  • UU Dampak Tembakau terhadap Kesehatan
  • Pergeseran selera konsumen cerutu besar ke cigarillo
  • Traktat International Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control–FCTC) cenderung membatasi konsumsi produk hasil tembakau 

Alternatif Solusi:

Input Supply Production Trading Processing Consumption
Alternatif Solusi
  • Pengadaan benih bermutu
  • Pemberian bantuan permodalan usahatani
  • Pemberian subsidi pupuk dan pestisida
  • Pengadaan Alsintan (alat dan mesin pertanian)
  • Peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana
  • Memperbaiki tataniaga tembakau untuk menjamin keberlangsungan usahatani tembakau cerutu dan meningkatkan pendapatan petani
  • Memberdayakan dan meningkatkan kelembagaan petani dan kelompok tani
  • Peningkatan sistem kemitraan petani dengan pengusaha industri pengolahan tembakau
  • Peningkatan keterampilan, profesionalisme, serta pengembangan kompetensi SDM petani
  • Penciptaan kepastian berusaha dan iklim usaha yang kondusif
  • Meningkatkan penggunaan tembakau sebagai bahan baku utama untuk industri cerutu
  • Budidaya tembakau ramah lingkungan, memperhatikan kelestarian sumberdaya lahan dan lingkungan
  • Memperbaiki tataniaga tembakau untuk menjamin keberlangsungan usahatani tembakau cerutu dan meningkatkan pendapatan petani
  • Meningkatkan jejaring penelitian dengan berbagai lembaga penelitian
  • Pengembangan varietas tembakau rendah tar dan nikotin atau beresiko rendah terhadap kesehatan
  • Inovasi Teknologi Informasi (peningkatan produktivitas, pengembangan mutu sesuai standar)
  • Peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana
  • Peningkatan ekspor produk IHT melalui promosi, misi dagang, perjanjian bilateral, regional dan multilateral
  • Strategi pemasaran melalui periklanan
  • Memperluas wilayah atau pasar ekspor ke negara-negara berkembang lainnya
  • Peningkatan pengelolaan permintaan (penetrasi pasar, pengembangan produk, riset pasar, pengembangan jalur distribusi, respon cepat kepada konsumen)
  • Penciptaan kepastian berusaha dan iklim usaha yang kondusif
  • Meningkatkan jejaring penelitian dengan berbagai lembaga penelitian
  • Pemberlakuan cukai yang terencana, kondusif dan moderat
  • Penyusunan rumusan insentif ekspor bagi produk tembakau
  • Memperbaiki kinerja dan struktur industri agar tetap menjadi salah satu penyedia lapangan kerja
  • Peningkatan keterampilan, profesionalisme dan kompetensi (pengembangan dan perencanaan SDM)
  • Penciptaan kepastian berusaha dan iklim usaha yang kondusif
  • Pemberlakuan cukai yang terencana, kondusif dan moderat
  • Strategi pengembangan produksi cerutu rendah tar dan nikotin dan diversifikasi produk
  • Inovasi Teknologi Informasi (pengembangan mutu bahan baku dan produk olahan sesuai standar)
  • Peningkatan produksi dan teknologi (Supply Chain Management)
  • Peningkatan Social Responsibility Program/SRP
  • Meningkatkan jejaring penelitian dengan berbagai lembaga penelitian
  • Bantuan permodalan usaha
  • Strategi pemasaran melalui periklanan
  • Pengembangan cerutu rendah tar dan nikotin
  • Peningkatan pengelolaan permintaan (pengembangan pasar baru, penetrasi pasar, pengembangan produk, riset pasar, pengembangan jalur distribusi, respon cepat kepada konsumen)
  • Penyusunan RUU Pengendalian Dampak Tembakau yang komprehensif, berimbang dan berkelanjutan

3. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian isi paper, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1)      Pembentukan Kewirausahaan Lembaga diperlukan untuk membantu mengatasi permasalahan-permasalahan agribisnis tembakau yang terjadi.

2)      Para pemangku kepentingan (stakeholders) dalam sektor agribisnis di Indonesia adalah Pemerintah, Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Forum Komunikasi, Perusahaan Jasa (Industri Terkait), Asosiasi-Asosiasi Agribisnis Tembakau dan Industri Hasil Tembakau. Setiap stakeholders memiliki peranan yang sangat penting dalam agribisnis tembakau di Indonesia.

3)      Kewirausahaan Lembaga harus mampu mengidentifikasi,menemukan dan mengeksekusi solusi-solusi permasalahan dalam agribisnis tembakau untuk dapat membentuk iklim bisnis yang kondusif dan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Forum Usahatani Tembakau Jawa Timur. 2010. Dinamika Usahatani Tembakau di Jawa Timur. Surabaya: Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur.

FCTC Conference of the Parties. 2008. Guidelines for Implementation of Article 5.3 of the WHO Framework Convention on Tobacco Control on the protection of public health policies with respect to tobacco control from commercial and other vested interests of the tobacco industry. Geneva: WHO. http://www.who.int/fctc/protocol/guidelines/adopted/article_5_3/en/ index.html. (diakses pada tanggal 13 Juni 2013).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 2003. PP No.19 Tahun 2003. Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. http://datahukum.pnri.go.id. (diakses pada tanggal 13 Juni 2013).

Rachman, A.H. 2007. Status Pertembakauan Nasional. Prosiding Lokakarya Nasional Agribisnis Tembakau. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.

World Health Organization. 2003. WHO Framework Convention on Tobacco Control. Geneva: World Health Organization. http://whqlibdoc.who.int/publications/2003/9241591013.pdf. (diakses 13 Juni 2013).

Wibowo, R. 2007. Revitalisasi Komoditas Unggulan Perkebunan Jawa Timur. Jakarta: Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI).

Dian Widi Prasetyo 

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

TAHUN 2012

PENDAHULUAN

1. 1    PENGANTAR

Merek sebagai salah satu wujud karya intelektual memiliki peranan penting bagi kelancaran dan peningkatan perdagangan barang atau jasa dalam kegiatan perdagangan dan investasi. Merek (dengan “brand image”-nya) dapat memenuhi kebutuhan konsumen akan tanda pengenal atau daya pembeda yang teramat penting dan merupakan jaminan kualitas produk atau jasa dalam suasana persaingan bebas. Oleh karena itu, merek meruapakan aset ekonomi bagi pemiliknya, baik perorangan maupun perusahaan (badan hukum) yang dapat menghasilkan keuntungan besar, tentunya bila didayagunakan dengan memperhatikan aspek bisnis dan proses manajemen yang baik. Dengan demikian, pentingnya peranan merek ini, maka terhadapnya dilekatkan perlindungan hukum, yakni sebagai obyek terhadapnya terkait hak-hak perseorangan atau badan hukum.

Kebijakan keputusan yang melatarbelakangi perlindungan merek yang mencakup perlindungan terhadap pembajakan merek telah menjadi perhatian di negara manapun di dunia. Negara-negara Asia dan wilayah Asia Pasifik memberikan lingkup perlindungan yang paling luas bagi pemilik merek melalui proses registrasi. Walaupun pemakaian atas suatu merek di dalam suatu wilayah dapat memberikan pemilik merek beberapa tingkat perlindungan menurut undang-undang persaingan curang, undang-undang ini cenderung merupakan suatu cara yang umum yang agaknya lemah dan mengharuskan pemilik merek untuk menyerahkan bukti reputasi yang luas. Lebih jauh lagi, lingkup perlindungan yang diberikan dengan adanya pendaftaran merek yang dikabulkan cenderung dibatasi di banyak negara di wilayah yang bersangkutan. Umumnya, terdapat penekanan yang lebih besar pada pembatasan-pembatasan yang diatur dengan klasifiasi barang dan /atau jasa yang dimintakan pendaftaran.

Hal ini berarti bahwa mungkin perlu mendaftarkan aplikasi ganda untuk registrasi di suatu wilayah, karena setiap pendaftaran merek biasanya secara relatif diberikan lingkup perlindungan yang terbatas. Perlindungan maksimum untuk merek-merek di suatu wilayah hanya dapat diberikan dengan mengajukan permohonan pendaftaran merek si setiap negara di suatu wilayah.

Indonesia telah meratifikasi Persetujuan TRIPs (Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights, Including Trade on Counterfit Goods) yang merupakan bagian dari Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia pada tanggal 15 april 1994 (Undang-undang R.I No. 7 tahun 1994 tentang Pengesahan Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia/ Agreement Establishing the World Trade Organization).

Pada tanggal 7 Mei 1997, Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Paris dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1997 Tentang Perubahan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 1979 Tentang Pengesahan Paris Convention for the Protection of Industrial Property dan Convention Establishing the world Intellectual Property Organization, dengan mencabut persyaratan (reservasi) terhadap Pasal 1 sampai dengan pasal 12. Sebagai konsekuensinya, Indonesia harus memperhatikan ketentuan yang bersifat substantif yang menjadi dasar bagi pengaturan dalam peraturan perundang-undangan dibidang Merek, disamping Paten maupun Desain Industri. Pada tanggal 7 Mei 1997 juga telah diratifikasi Traktat Kerjasama dibidang Merek (Trademark Law Treaty) dengan Keputusan Presiden Nomor 17 tahun 1997.

1. 2    MANFAAT MAKALAH

  1. Menjelaskan apa dan bagaimanakah merek itu
  2. Mengidentifikasi contoh kasus mengenai merek
  3. Menjelaskan bagaimana cara melingungi merek yang telah ada sebagai bentuk melindungi hak kekayaan intelektual

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1    PENGERTIAN MEREK DAGANG

Undang-undang merek memberikan perlindungan hukum bagi tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Tanda-tanda tersebut harus berbeda sedemikian rupa dengan tanda yang digunakan oleh perusahaan atau orang lain untuk membedakan dengan barang-barang sejenis lainnya. Tanda dianggap tidak memiliki daya pembeda apabila tanda tersebut terlalu sederhana, seperti satu tanda garis atau satu tanda titik, ataupun terlalu rumit sehingga tidak jelas.

Merek terdaftar mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak Tanggal Penerimaan dan jangka waktu perlindungan itu dapat diperpanjang.

Merek menurut Undang-undang no. 15 tahun 2001 tentang merek dibedakan yaitu :

  1. Merek Dagang adalah Merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa-jasa sejenis lainnya (pasal 1 ayat (2)).
  2. Merek Jasa adalah Merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa-jasa sejenis lainnya (pasal 1 ayat (3)).
  3. Merek Kolektif adalah Merek yang digunakan pada barang dan atau jasa dengan karakteristik yang sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang dan/ atau jasa sejenis lainnya (Pasal 1 ayat (4)).

2. 2    PENGALIHAN MEREK DAGANG

Dalam ketentuan Pasal 40 ayat (1) Undang-undang No. 15 tahun2001 tentang merek disebutkan hak atas merek terdaftar dapat beralih atau dialihkan karena : pewarisan; wasiat; hibah; perjanjian; sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. Maksud dari “sebab-sebab lain yang dibenarkan peraturan perundang-undangan”, misalnya pemilikan merek karena pembubaran badan hukum yang smula merupakan pemilik merek. Khusus mengenai pengalihan dengan perjanjian, hal tersebut harus dituangkan dalam bentuk akta perjanjian.

Pengalihan hak atas merek ini dilakukan dengan menyertakan dokumen yang mendukungnya, antara lain sertifikat merek serta bukti-bukti lain yang mendukung kepemilikan tersebut, kemudian wajib dimohonkan pencatatannya kepada Direktorat Jenderal untuk dicatatkan dalam Daftar Umum Merek. Pencatatan ini dimaksudkan agar akibat hukum dari pengalihan hak atas merek terdaftar tersebut berlaku terhadap pihak-pihak yang bersangkutan dan terhadap pihak ketiga. Yang dimaksud dengan “pihak-pihak yang bersangkutan” disini adalah pemilik merek dan penerima pengalihan hak atas merek. Sedangkan yang dimaksud dengan pihak ketiga adalah penerima lisensi. Namun tujuan yang penting dari adanya kewajiban untuk mencatatkan pengalihan hak atas merek adalah unutk memudahkan pengawasan dan mewujudkan kepastian hukum.

Di dalam pengalihan hak atas merek terdaftar dapat disertai dengan pengalihan nama baik, reputasi, atau lain-lainnya yang terkait dengan merek tersebut. Pengalihan hak atas merek Jasa terdaftar hanya dicatat oleh Direktorat Jenderal apabila disertai pernyataan tertulis dari penerima pengalihan bahwa merek tersebut akan digunakan bagi perdagangan barang dan/atau jasa.

Seperti halnya dalam pengalihan hak atas Merek Dagang, Undang-undang Merek juga memungkinkan terjadinya adanya pegalihan hak atas Merek Jasa. Hal ini diatur dalam Pasal 41 ayat (2) yang menyatakan bahwa hak atas Merek Jasa terdaftar yang tidak dapat dipisahkan dari kemampuan, kualitas, atau keterampilan pribadi pemberi jasa yang bersangkutan dapat diahlihkan dengan ketentuan harus ada jaminan terhadap kualitas pemberi jasa.

Contoh yang berkaitan dengan pengalihan hak atas Merek Jasa yaitu jasa yang berkaitan dengan tata rias rambut, dimana jaminan kualitasnya dapat berupa sertifikat yang dikeluarkan oleh pemberi lisensi yang menunjukan jaminan atas kemampuan atau keterampilan pribadi penerima lisensi yang menghasilkan jasa yang diperdagangkan.

2. 3    LISENSI MEREK DAGANG

Pasal 43 Undang-undang merek menentukan bahwa pemilik merek terdaftar berhak memberikan Lisensi kepada pihak lain dengan perjanjian bahawa penerima lisensi akan menggunakan merek tersebut untuk sebagian atau seluruh jenis barang atau jasa. Perjanjian lisensi berlaku di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia, kecuali bila diperjanjikan lain, untuk jangka waktu yang tidak leboh lama dari jangka waktu perlindungan merek terdaftar yang bersangkutan.

Pemilik merek terdaftar yang telah memberikan lisensi kepada pihak lain tetap dapat menggunakan sendiri atau memberikan lisensi kepada pihak ketiga lainnya untuk menggunakan merek tersebut, kecuali bila diperjanjikan lain (Pasal 44 Undang-undang Merek). Dalam perjanjian lisensi dapat ditentukan bahwa penerima lisensi bisa memberi lisensi lebih lanjut kepada pihak ketiga (Pasal 45 Undang-undang Merek).

2. 4    DASAR HUKUM DI INDONESIA

Dasar hukum mengenai HAKI di Indonesia diatur dengan undang-undang Hak Cipta no.19 tahun 2003, undang-undang Hak Cipta ini melindungi antara lain atas hak cipta program atau piranti lunak computer, buku pedoman penggunaan program atau piranti lunak computer dan buku-buku (sejenis) lainnya. Terhitung sejak 29 Juli 2003, Pemerintah Republik Indonesia mengenai Perlindungan Hak Cipta, peerlindungan ini juga mencakup :

  • Program atau Piranti lunak computer, buku pedoman pegunaan program atau piranti lunak computer, dan buku-buku sejenis lainnya.
  • Dari warga Negara atau mereka yang bertempat tinggal atau berkedudukan di Amerika Serikat, atau
  • Untuk mana warga Negara atau mereka yang bertempat tinggal atau  berkedudukan di Amerika Serikat memiliki hak-hak ekonomi yang diperoleh dari UNDANG-UNDANG HAK CIPTA, atau untuk mana suatu badan hukum (yang secara langsung atau tak langsung dikendalikan, atau mayoritas dari saham-sahamnya atau hak kepemilikan lainnya dimiliki, oleh warga Negara atau mereka yang bertempat tinggal atau berkedudukan di Amerika Serikat) memiliki hak-hak ekonomi itu;
  • Program atau piranti lunak komputer, buku pedoman penggunaan program atau piranti lunak computer dan buku-buku sejenis lainnya yang pertama kali diterbitkan di Amerika Serikat.

Para anggota BSA termasuk ADOBE, AutoDesk, Bently, CNC Software, Lotus Development, Microsoft, Novell, Symantec, dan Santa Cruz Operation adalah perusahaan-perusahaan pencipta program ataupiranti lunak computer untuk computer pribadi (PC) terkemuka didunia, dan juga adalah badan hukum Amerika Serikat yang berkedudukan di Amerika Serikat. Oleh karena itu program atau piranti lunak computer, buku-buku pedoman penggunaan programataupiranti lunak computer dan buku-buku sejenis lainnya ciptaan perusahaan-perusahaan tersebut dilindungi pula oleh UNDANG-UNDANG HAK CIPTA INDONESIA.

Jika seseorang melakukan suatu pelanggaran terhadap hak cipta orang lain maka orang tersebut dapat dikenakan tuntutan pidana maupun gugatan perdata. Jika anda atau perusahaan melanggar hak cipta pihak lain, yaitu dengan sengaja dan tanpa hak memproduksi, meniru atau menyalin, menerbitkan atau menyiarkan, memperdagangkan atau mengedarkan atau menjual karya-karya hak cipta pihak lain atau barang-barang hasil pelanggaran hak cipta (produk-produk bajakan) maka anda telah melakukan tindak pidana yang dikenakan sanksi-sanksi pidana.

2. 5    CONTOH KASUS

Swaratangerang.com - Kisruh kepemilikan merek secara hukum di Indonesia terus meningkat, sejalan meningkatnya kasadaran dunia usaha terhadap hak kekayaan intelektual (HAKI) khususnya soal merek. Setidaknya ada 2 penyebab maraknya kasus perebutan merek dagang itu. “Kami melihat ada peningkatan, artinya juga ada peningkatan kesadaran dari anggota kami, UKM yang tadinya tak mendaftarkan merek sekarang peduli,” kata Ketua Umum Asosiasi Konsultan HKI Indonesia Justisiari P Kusuma. Justisiari menambahkan, fenomena peningkatan rebutan merek dagang ini juga dapat diartikan bahwa pelanggaran HAKI dari pelaku bisnis di Tanah Air meningkat.

Saat ini para pemegang merek yang merasa dirugikan lebih memilih untuk menempuh jalur hukum dari sebelumnya diselesaikan non hukum. “Perlu diketahui juga ada yang namanya merek pirates (pembajak merek), masih banyak meskipun secara kuantitas sudah berkurang, karena pengawasan yang ketat. Kalau dahulu tahun 1998 ada si x, memiliki semua merek mahal, ini seharusnya kantor merek curiga. Sekarang tetap masih ada,” katanya. Penyebab kasus-kasus rebutan merek ini menurut Justisiari terpicu dari beberapa hal. Pertama, soal adanya pihak yang sengaja menjiplak merek tertentu dengan tujuan tidak baik. Biasanya pelaku penjiplak ini berharap bisa menebeng nama besar terhadap merek yang ditiru dengan motif keuntungan pribadi. Kedua, adalah karena praktik pembajak merek yang secara sadar mendaftarkan beberapa merek terkenal tanpa dipakai. Sementara pemilik merek belum sadar mematenkan mereknya. Biasanya para pembajak merek ini lebih dahulu mendaftarkan di HAKI, dengan tujuan agar bisa bernegosiasi oleh pemegang merek dengan menjual kembali untuk mendapat keuntungan material. “Kalau melihat perkembangannya karena pembatalan itu lebih banyak, apakah ini kelemahan di regulator apa kelalaian si pemilik.

Memang tak serta merta regulator yang salah karena biasanya sudah diumumkan ke publik,” katanya. Berdasarkan catatanya sekarang ini perusahaan besar yang merasa dirugikan dengan prilaku pembajak merek lebih memilih menempuh jalur hukum. Tawaran bernegosiasi dengan pembajak merek sudah dihindari. “Banyak perusahaan-perusahaan asing sekarangdari pada beli ke pirates, lebih baik diajak perang di pengadilan,” katanya. Beberapa kasus kisruh merek belakangan ini semakin banyak diperkarakan seperti perusahaan jam raksasa Jepang, Casio menggugat pengusaha lokal Bing Ciptadi karena diduga membuat jam tangan palsu seri Edifice. Padahal, Casio membuat seri Edifice yang telah beredar di Indonesia dan terdaftar di Kemkum dan HAM. Namun pihak Bing Ciptadi menggugat balik perusahaan jam raksasa Jepang Casio. Ini karena jam tangan seri Edifice sudah lebih dahulu didaftarkan di Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Padahal sebelumnya Casio menggugat pengusaha lokal Bing Ciptadi karena diduga membuat jam tangan palsu seri Edifice. Sebelumnya juga pihak mobil mewah Lexus yang bernaung di bawah Toyota Jidosha Kabushiki Kaisha menggugat pengusaha helm lokal karena merasa ditiru nama mereknya. Lexus menilai helm produksi pengusaha pribumi Jaya Iskandar membonceng nama Lexus untuk mendongkrak penjualan helm tersebut. Lexus adalah merek dagang untuk mobil yang dikeluarkan Toyota Motor Corporation yang berkantor pusat di Toyota-cho, Toyota-shi, Aichi-ken Japan. (Tl)

PEMBAHASAN

Hak Kekayaan Intelektual yang disingkat ‘HKI’ atau akronim ‘HAKI’ adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR), yakni hak yang timbul bagi hasil olah pikir otak yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia. Pada intinya HAKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual. Objek yang diatur dalam HaKI adalah karya-karya yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia.

Secara garis besar HAKI dibagi dalam dua bagian, yaitu:

  1. Hak Cipta (copy rights)
  2. Hak Kekayaan Industri (Industrial Property Rights), yang mencakup:
  • Paten;
  • Desain Industri (Industrial designs);
  • Merek;
  • Penanggulangan praktik persaingan curang (repression of unfair competition);
  • Desain tata letak sirkuit terpadu (integrated circuit);
  • Rahasia dagang (trade secret);

Di Indonesia badan yang berwenang dalam mengurusi HAKI adalah Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual, Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI.

Pada hak kekayaan industri ada cakupan “Merek”, yang merupakan “suatu tanda pembeda” atas barang atau jasa bagi satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Sebagai tanda pembeda maka merek dalam satu klasidikasi barang/jasa tidak boleh memiliki persamaan antara satu dan lainnya baik pada keseluruhan maupun pada pokoknya. Pengertian persamaan pada keseluruhannya yaitu apabila mempunyai persamaan dalam hal asal, sifat, cara pembuatan dan tujuan pemakaiannya. Sedangkan pengertian persamaan pada pokoknya yaitu apabila memiliki persamaan dalam hal asal, sifat, cara pembuatan dan tujuan pemakaiannya dan apabila memiliki persamaan pada persamaan bentuk, persamaan cara penempatan, persamaan bentuk dan cara penempatan, persamaan bunyi ucapan

Merek atas barang lazim disebut sebagai merek dagang adalah merek yang digunakan/ditempelkan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang, atau badan hukum. Merek jasa adalah merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang, atau badan hukum. Merek sebagai tanda pembeda dapat berupa nama, kata, gambar, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut.

3. 2    PERLINDUNGAN MEREK DI INDONESIA

Bagi suatu perusahaan, merek menjadi pembeda dari produk-produk yang mereka miliki/produksi. Sedangkan bagi konsumen, fungsi utama dari merek merupakan suatu pembeda yang mencirikan suatu produk, baik barang maupun jasa, agar dapat lebih mudah dikenali. Merek juga merupakan alat pemasaran dan dasar untuk untuk membangun citra dan reputasi. Konsumen menilai merek dari reputasinya, citranya, dan kualitas-kualitas lainnya yang konsumen inginkan dan dapat memenuhi harapan mereka. Oleh karena itu, memiliki sebuah merek dengan citra dan reputasi yang baik menjadikan sebuah perusahaan menjadi lebih kompetitif. Dari sisi inilah merek menjadi aset tak berwujud (intangible asset) suatu perusahaan.

Sebagian besar perusahaan/pelaku bisnis menyadari pentingnya penggunaan merek untuk membedakan produk yang mereka miliki dengan produk milik pesaing, tapi tidak semua dari mereka yang menyadari mengenai pentingnya perlindungan merek melalui pendaftaran. Perusahaan dapat berinvestasi dengan memelihara dan meningkatkan kualitas produk, namun alangkah baiknya jika terlebih dahulu kepemilikan atas merek yang digunakan dalam sebuah produk diberikan pelindungan secara hukum.

Berikut tahapan dari pendaftaran sebuah merek:

  1. Permohon menyerahkan formulir pendaftaran merek yang telah diisi, memberikan etiket merek/gambar merek yang akan digunakan, melengkapi deskripsi produk barang/jasa berikut kelas usaha yang ingin didaftarkan, kemudian membayar biaya pendaftaran merek.
  2. Pemeriksaan formal, merupakan pemeriksaan kelengkapan dokumen permohonan sesuai dengan syarat administrasi dan formalitas.
  3. Pemeriksaan Substansif, merupakan pemeriksaan isi berkas permohonan untuk memperjelas bahwa merek yang diajukan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  4. Publikasi dan oposisi, dimana merek yang didaftarkan akan dipublikasikan dengan rentang waktu tertentu untuk memberikan kesempatan bagi pihak ketiga mengajukan keberatan, apabila ada.
  5. Pengeluaran sertifikat, apabila telah diputuskan bahwa tidak ada alasan untuk penolakan, maka merek tersebut didaftar dan sertifikat pendaftarannya akan dikeluarkan untuk masa berlaku 10 tahun, dan dapat diperpanjang untuk masa yang sama.

Pada saat diberikan sertifikat tanda perlindungan sah adanya, maka pemegang Merek dilindungi untuk menggunakan sendiri Merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya. Adapun jangka waktu perlindungan merek adalah selama 10 (sepuluh) tahun dan dapat diperpanjang selama merek tersebut digunakan dalam bidang perdagangan barang atau jasa.

DAFTAR PUSTAKA

SwaraTangerang. 2012. Kasus Rebutan Merek Dagang di Indonesia Terus Meningkat. http://swagooo.com/berita-25994-kasus-rebutan-merek-dagang-di-indonesia-terus-meningkat.html [diakses pada tanggal 7 September 2012]

Sebenarnya sich ini tugas kuliah ya yang penting ane upload dlu buat nambah2 referensi bagi teman2 yang mau tahu seberapa berdayasaingnya kopi kita dengan kopi-kopi di tingkat pasar dunia. Check this Out!!!

1. PENDAHULUAN

1.1     LATAR BELAKANG 

Perkembangan lingkungan eksternal dan internal yang cepat dewasa ini telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pelbagai faktor, terutama aspek sosial dan ekonomi seperti proses globalisasi dan desentralisasi sebagai implementasi dari Undang-Undang Otonomi Daerah. Liberalisasi perdagangan yang berlangsung sangat cepat dan meluas merupakan tantangan, namun sekaligus juga merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan dalam proses pembangunan ekonomi. Saat ini, Indonesia menghadapi dua tantangan utama terkait dengan proses globalisasi dan desentralisasi. Pertama, upaya peningkatan daya saing sektor-sektor unggulan Indonesia melalui peningkatan efesiensi dan pembangunan keunggulan kompetitif pada gilirannya akan memperkokoh ketahanan dan pertumbuhan ekonomi. Kedua, pelaksanaan proses desntralisasi ekonomi dilakukan dengan cara bertahap agar potensi sumberdaya ekonomi di seluruh daerah dapat segera digerakkan secara bersamaan menjadi kegiatan ekonomi yang meluas.

Dikenal sebagai negara agraris, perekonomian Indonesia lebih banyak bertumpu pada sektor pertaniannya. Perkebunan adalah salah satu contoh subsektor dari pertanian yang menjadi andalan. Kopi, tebu, kelapa kakao dan kelapa sawit adalah pelbagai contoh komoditi unggulan Indonesia di bidang ini. Tabel 1.1. menyajikan produksi komoditi perkebunan Indonesia dari tahun 2005 sampai 2009.

Tabel 1. 1. Produksi Komoditi Perkebunan (Juta Ton)

Komoditi

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

Kopi 0.640 0.682 0.676 0.698 0.682
Kelapa 3,096 3,131 3,193 3,239 3,257
Tebu 2,241 2,307 2,623 2,668 2,517
Kelapa sawit 11,861 17,35 17,664 17,539 19,324
Kakao 0,748 0,769 0,74 0,803 0,809

Sumber : Kementan dalam Andelisa, 2011

Indonesia merupakan salah satu negara produsen utama kopi dunia yang akhir-akhir ini kontribusinya terhadap devisa negara maupun pendapatan petani kopi cenderung meningkat hanya sedikit atau bisa dikatakan stagnan, hal ini terbukti pada tabel di atas. Pada tahun 2005 total produksi dengan jumlah 0,640 hingga berada dikisaran 0,682 pada akhir tahun 2009. Pelbagai kendala menghadapi salah satu unggulan Indonesia ini, antara lain kondisi tanaman umumnya sudah tua, kurang terpelihara, lemahnya koordinasi antara petani dengan pemerintah terkait bagaimana cara budidaya, pengolahan dan distribusi, produktivitasnya semakin menurun dan lainnya. Sementara upaya rehabilitasi maupun peremajaan tidak mendapat perhatian karena harga kopi tidak menarik investor.

Peran kopi sendiri bagi perekonomian Indonesia masih cukup penting meskipun hanya sebesar 0,5 % dari semua komoditas (ICO, 2010). Kopi berperan sebagai sumber pendapatan petani kopi, sumber devisa maupun penyedia lapangan kerja melalui kegiatan budidaya, pengolahan, pemasaran dan perdagangan (ekspor dan impor). Pada perdagangan internasional, Indonesia menempati peringkat 4 dunia dalam produksi kopi, dibawah Brazilia, Colombia dan Vietnam. Negara terakhir khususnya adalah pesaing baru di dunia perkopian, karena baru muncul sekitar tahun 1997.

Negara-negara produsen selain Indonesia telah melakukan langkah-langkah besar demi menguasai pangsa pasar kopi dunia, baik arabika dan robusta. Faktor inilah yang menjadikan keharusan untuk menganalisis kelebihan dan kekurangan dari komoditi kopi Indonesia sangat diperlukan agar produsen di Indonesia dapat mencari peluang dan meminimalisir setiap kekurangan yang ada. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya agar agribisnis unggulan Indonesia ini tidak mengalami kemunduran dan tertinggal dari produsen kopi dunia yang lain.

 

1.2     TUJUAN

Tulisan ini bertujuan menganalisis kemampuan daya saing komoditi kopi Indonesia di pangsa pasar dunia, faktor-faktor apa yang memengaruhinya, serta pelbagai rekomendasi agar kopi Indonesia dapat bersaing dengan kopi sejenis dari negara lain.

 

1.3     METODOLOGI

Pada laporan ini, penulis menggunakan analisa komparatif RCA(Revealed Comparative Advantage) dan teori Berlian Porter. Penggunaan kedua analisa ini membantu mengidentifikasi sistematis dari faktor dan strategi yang merefleksikan keduanya. Data-data pendukung akan dicantumkan guna membantu penulis membandingkan ekspor Indonesia dengan negara lain.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1     PERKEMBANGAN EKSPOR PRODUSEN KOPI DUNIA

Perkopian dunia mengalami banyak perubahan, mulai dari fluktuatuifnya harga kopi di pasar internasional hingga jumlah volume ekspor kopi tiap-tiap negara yang saling bersaing. Hal ini tidak terlepas dari permintaan dan produksi kopi tiap-tiap negara pengekspor kopi serta perubahan gaya hidup masyarakat. Dewasa ini, kopi dunia dikuasai sepenuhnya oleh 4 eksportir besar dunia antara lain Indonesia, Brazil, Colombia dan Vietnam, baik kopi arabika dan robusta. Pangsa pasar yang menjadi tujuan utama para eksportir kopi antara lain, Uni Eropa, Amerika, Jepang dan lainnya.

Persaingan keempat negara ini dalam menguasai pangsa kopi dunia semakin sengit. Bahkan Vietnam yang notabene “orang baru” dalam persaingan ini, telah menggeser posisi Colombia dan Indonesia keurutan 3 dan 4 pada tahun 1997 untuk produksi kopi robusta. Berikut adalah tabel ekspor dari keempat produsen kopi dunia.

Tabel 2. 1 Perkembangan Produksi dan Volume Ekspor Produk Kopi Indonesia, Brazil, Colombia, dan Vietnam (dalam 000 bags)

Tahun

Indonesia

Brazil

Colombia

Vietnam

Produksi

Ekspor

2000

6.987

5.358

18.016

9.176

11.618

2001

6.833

5.243

23.172

9.943

14.106

2002

6.731

4.286

27.981

10.273

11.771

2003

6.404

4.795

25.710

10.244

11.631

2004

7.536

5.456

26.478

10.194

14.858

2005

9.159

6.744

26.190

10.871

13.432

2006

7.483

5.280

27.354

10.944

13.904

2007

4.474

4.149

28.174

11.300

17.936

2008

9.612

5.741

29.503

11.085

16.101

2009

11.380

7.907

30.345

7.893

17.051

2010

9.129

5.489

33.028

7.821

14.228

2011

8.750

6.264

33.456

7.733

17.675

Sumber : ICO, 2012

Indonesia merupakan salah satu produsen kopi nomor 4 di dunia dengan total luasan tanam adalah sekitar 1.308.000 ha (AEKI,2012). Meskipun terbilang cukup luas dalam hal luasan tanam, produksi kopi ini sendiri lebih banyak dibudidayakan oleh rakyat atau lebih dikenal dengan kopi rakyat sebesar 90 %, sedangkan sisanya dibudidayakan oleh perusahaan negara maupun swasta. Hal ini yang menyebabkan kopi Indonesia kurang bisa bersaing di level Internasional karena kebanyakan kopi yang dibudidayakan adalah milik rakyat, yang notabene kualitas dan kuantitasnya jauh dibawah standar yang ada sehingga produk-produk yang berasal dari Indonesia lebih banyak dipinggirkan. Meskipun demikian, peran komoditas kopi bagi perekonomian Indonesia masih cukup penting bagi petani kopi, pengusaha hingga eksportir.

Tabel 2. 2 Nilai Ekspor Kopi Indonesia (Xij), Nilai Ekspor Total Indonesia (Xjj), Nilai Ekspor Kopi Dunia (Xiw), dan Nilai Ekspor Total Dunia (Xww) dalam ribuan US $

Tahun Xij Xjj Xiw Xww
2006

497.328

100.790.000

10.100.000

11.970.949.000

2007

622.601

114.100.000

12.500.000

14.002.600.000

2008

923.542

137.020.000

15.000.000

16.120.500.000

2009

803.564

116.500.000

13.500.000

12.516.400.000

2010

846.543

157.700.000

15.400.000

14.841.056.500

2011

1.064.369

203.620.000

23.500.000*

17.779.000.000

Sumber : AEKI (2012), WTO (2012), ICO (2012), Wikipedia (2012)

 

2.2     PERKEMBANGAN EKSPOR KOPI DI INDONESIA

Kopi Indonesia saat ini menempati peringkat keempat terbesar di dunia dari segi hasil volume ekspor dunia. Komoditas ini di Indonesia memiliki sejarah panjang dan memiliki peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat di Indonesia. Kopi yang awalnya dibawa sekitar tahun 1696 oleh pemerintahan Belanda yang kala itu berkuasa di Indonesia hingga menjadikan negara ini sebagai produsen kopi di dunia.

Indonesia diberkati dengan letak geografisnya yang sangat cocok difungsikan sebagai lahan perkebunan kopi. Produksi kopi Indonesia kebanyakan berasal dari 2 jenis kopi, yakni kopi arabika dan robusta. Kopi-kopi arabika banyak dibudidayakan di dataran tinggi oleh perusahaan negara, salah satu contohnya PTPN XII Kalisat dan Blawan. Selain di Jawa, kopi ini juga banyak dibudidayakan di Aceh, Toraja, dan Bali. Sedangkan untuk kopi robusta yang budidayanya di dataran rendah, banyak dijumpai di Lampung, Flores dan Jawa. Keduanya adalah jenis kopi andalan Indonesia yang saat ini sudah memiliki nama (brandimage) di pasar dunia. Berikut ini adalah ekspor kedua jenis kopi dan hasil olahannya antara tahun 2006 sampai dengan 2011.

Tabel 2. 3 Ekspor Kopi Indonesia Per Jenis Kopi (ton, 000 US $)

Tahun

Arabika

Robusta

Olahan

Total

Volume

Nilai

Volume

Nilai

Volume

Nilai

Volume

Nilai

2006

67.775

169.901

227.620

294.164

12.481

33.263

307.876

497.328

2007

50.952

141.926

247.852

425.332

13.279

55.343

312.083

622.601

2008

59.735

228.072

348.187

630.917

13.843

64.553

421.765

923.542

2009

62.854

172.909

434.430

608.304

8.098

22.351

505.382

803.564

2010

78.036

249.162

360.603

571.977

8.855

25.404

447.494

846.543

2011

73.715

438.671

265.368

580.266

12.924

45.432

352.007

1.064.369

Sumber : AEKI, 2012

Ekspor kopi Indonesia hampir seluruhnya dalam bentuk biji kering dan hanya sebagian kecil (sekitar dari 4%) dalam bentuk hasil olahan. Padahal kopi dalam bentuk hasil olahan dapat menaikan nilai tambah kopi tersebut dari pada dalam bentuk kering atau baku. Negara tujuan utama ekspor kopi Indonesia adalah Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan dan Italia.

3. PEMBAHASAN

Kondisi dunia perkopian di Indonesia sedang tidak dalam kondisi kondusif. Saat ini industri kopi sedang mengalami berbagai masalah, seperti cenderung stagnannya tingkat produksi nasional berada dikisaran 5000-an, kurang berdayasaingnya komoditi kopi di pasar internasional, dan disisi lain tingkat konsumsi masyarakat Indonesia juga masih tergolong rendah. Perlu adanya upaya untuk mentransformasikan komoditi ini dari keunggulan komperatif (comparative adventages) menjadi keunggulan kompetitif (competitive advantages) dengan mengembangkan subsistem agribisnis hilir dan membangun jaringan pemasaran domestik maupun internasional.

3.1     EKSPOR KOPI INDONESIA

Pada bab 2, data mengenai volume produksi dan ekspor negara-negara produsen kopi, anatar lain Indonesia, Brazilia, Colombia, dan Vietnam. Data tersebut adalah gabungan dari pelbagai jenis kopi yang diproduksi oleh produsen, baik bahan baku maupun hasil olahannya. Dilihat pada tabel 2.1, rata-rata produksi Indonesia untuk tahun 2000 sampai dengan 2011 adalah 5.582, jauh dibandingkan negara-negara produsen lain seperti Brazil dengan 27.750, Colombia dengan 9.652 dan Vietnam denan 14.525. Hal ini yang membuat Indonesia jauh tertinggal dan stagnan dengan hasil produksinya. Sungguh ironi memang, dengan memiliki luasan yang cukup tapi tidak bisa mengoptimalkan produksi yang bisa didapatkan. Meskipun demikian, komoditi ini masih menjadi primadona di dalam negeri karena pangsa pasar luar negeri dan harganya pun masih bisa membuat para pengusaha maupun pemerintah lega dibalik cenderung stagnannya produksi.

Pada tabel 2.3 menjelaskan ekspor kopi Indonesia berdasarkan jenis kopinya dari tahun 2006-2011, dapat dilihat bahwa produksi Indonesia kebanyakan berasal dari kopi robusta bukan kopi arabika, padahal kopi yang paling diminati di luar negeri adalah kopi arabika. Selain masalah itu, masalah yang lain muncul adalah ketidakmampuan Indonesia dalam menghasilkan hasil olahan kopi untuk pangsa pasar dunia, hanya sebesar 4% dari jumlah total ekspor kopi Indonesia. Pengembangan industri hilir kopi dan promosi untuk meningkatkan konsumsi kopi domestik mempunyai arti yang sangat strategis untuk mengurangi ketergantungan biji kopi di ekspor ke pasar internasional, sekaligus dapat meraih nilai tambah (value added) yang lebih besar. Pada hasil biji kering, Indonesia memiliki produk yang dikenal oleh konsumen di luar negeri semisal Java Coffea, Gayo Mountain Coffea, Luwak Coffea, dan lainnya. Hanya saja pada hasil olahan, Indonesia membutuhkan sebuah brandimage agar hasil olahan dapat terkenal dan disukai oleh konsumen dunia. Tetapi yang patut disyukuri adalah peningkatan nilai ekspor kopi Indonesia tahun demi tahun yang awalnya US $ 497.328.000 pada tahun 2006 melonjak hampur 2 kali lipat pada tahun 2011 yakni US $ 1.064.369.000.

 

3.2     ANALISA KOMPARATIF

Dalam perhitungan komparatif ini, penulis menggunakan salah satu metode yang terkenal untuk menghitung berdaya saing atau tidakkah suatu komoditi dalam perdagangan, yakni RCA (Revealed Comparative Advantage). Berdasarkan tabel 2. 2, berikut ini adalah hasil olahan untuk mengetahui berapa RCA, Indeks RCA dan AR.

Tabel 3.1 RCA, Indeks RCA dan AR dari Kopi Indonesia

Tahun

RCA

Indeks RCA

AR

2006 5,85 - -
2007 6,11 1,05 1,01
2008 7,24 1,19 1,24
2009 6,39 0,88 0,97
2010 5,17 0,81 0,92
2011 3,95 0,76 0,82

Sumber : Data diolah, 2012

RCA dapat dihitung untuk nilai ekspor komoditi tertentu. Jika RCA>1 (lebih dari satu), menunjukkan pangsa komoditi kopi dalam total ekspor negara lebih besar dari pangsa komoditi yang bersangkutan di dalam ekspor dunia. Semakin besar nilai RCA menunjukkan semakin kuat keunggulan komparatif yang dimiliki. Implikasinya, negera tersebut memiliki kemampuan untuk mengekspor komoditi yang dimaksud tanpa meninggalkan prisnsip-prinsip efesiensi produksi. Hanya saja berdasarkan tabel di atas, nilai RCA kopi Indonesia mengalami penurunan dari tahun ke tahun. RCA kopi bernilai 5,85 pada tahun 2006 menurun hingga 2 point ke nilai 3,95 pada tahun 2011. Ini terlihat juga pada indeks RCA kopi Indonesia, nilai indeks lebih kecil dari 1 yang artinya semakin menurunnya angka indeks menunjukkan adanya penurunan RCA turunnya, maka kinerja ekspor komoditi kopi dibandingkan dengan kinerja ekspor rata-rata dunia. Dari kedua analisa komparatif ini mengindikasikan ada yang salah dengan sistem-sistem yang menunjang dan mendukung produksi komoditi ini. Perlu adanya gebrakan untuk memperbaiki kualitas keunggulan daya saing kopi agar sejajar dengan produsen yang lain.

Pada analisa ketiga, penulis menggunakan analisa AR (Acceleration Ratio). Analisa ini digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya keunggulan komparatif komoditi. Analisa ini membandingkan trend ekspor komoditi tertentu suatu negara dengan trend ekspor komiditi yang bersangkutan (total dunia). Dari tabel di atas didapatkan hasil bahwa nilai AR kopi Indonesia mengalami penurunan. Dengan nilai AR dibawah 1, maka dapat disimpulkan bahwa komoditi kopi Indonesia kurang berdaya saing di pasar dunia.

 

3.3     ANALISA BERLIAN PORTER

Teori Berlian Porter atau yang lebih terkenal dengan Porter’s menyatakan bahwa faktor-faktor pembawa daya saing nasional atau suatu produk yaitu factor condition(kondisi faktor), demand condition (kondisi permintaan), related supporting industries (industri penunjang dan terkait), serta firm strategy, structure and rivalry (strategi perusahaan, struktur, dan persaingan). Dengan dukungan faktor-faktor itu dan dengan kecermatan memetakan konstelasi industri, pemerintah dan perusahaan dipandang akan mampu menetapkan posisi dan strategi bersaing untuk menjadi yang terunggul. Kemampuan untuk menganalisa faktor-faktor yang berkaitan dengan perkopian Indonesia mampu menjadikan kopi Indonesia terbaik di dunia.

3.3.1  Permintaan

  1. Permintaan dunia komoditi kopi terus meningkat, sejalan dengan peningkatan konsumsi kopi di Eropa, Asia Timur dan Amerika Utara. Negara-negara dikawasan ini memiliki kebiasaan minum kopi sejak dulu sehingga konsumsi kopi tinggi, sebagai contoh Finlandia dengan 11,2 kg/kapita/tahun dan Norwegia dengan 9,1 kg/kapita/tahun.
  2. Permintaan pasar domistik cukup potensial, sementara produksi kopi di Indonesia masih belum sepenuhnya sesuai permintaan pasar. Meskipun saat ini konsumsi kopi dalam negeri hanya sebesar 0,86 kg/kapita/tahun, tetapi dengan populasi 280 juta ini adalah pasar potensia untuk pangsa kopi.
  3. Pasar dunia lebih menyukai kopi jenis Arabika, sementara Indonesia lebih banyak memproduksi kopi jenis Robusta. Produksi kopi arabika Indonesia hanya sebesar 22 % dari produksi nasional pada tahun 2010 (AEKI, 2012).
  4. Tuntutan konsumen kopi dunia mulai menghendaki produk-produk kopi back to nature yang sedang menjadi trend di kota-kota besar dunia.
  5. Produk kopi rendah kafein (decafeinated coffee) harus disikapi dengan tepat dalam pengembangan diversifikasi produk kopi olahan kedepan, selain kopi bubuk, kopi instan, kopi mix dan minuman kopi.
  6. Adanya lonjakan produksi/suplay kopi dunia dalam dekade 5 (lima) tahun terakhir. Sementara permintaan/demand dunia meningkat tidak signifikan. Hal ini mengakibatkan anjloknya harga kopi dunia.
  7. Harga kopi yang kurang menarik, menyebabkan petani kopi Indonesia kurang bergairah meningkatkan produksinya baik secara ekstensifikasi maupun intensifikasi.

 

3.3.2  Faktor Kondisi (Input)

  1. Sumber Daya Alam

ü Indonesia sebagai negara beriklim tropis sangat cocok untuk budidaya tanaman kopi dan menghasilkan biji kopi dengan citra khas baik jenis robusta ataupun arabika. Kopi sendiri optimal ditanam di daerah tropis dan Indonesia salah satunya. Perbedaan kopi arabika dan robusta adalah pada tinggi tempat budidayanya. Umumnya kopi arabika ditanam di dataran tinggi diatas 1000 mdpl. Sedangkan kopi robusta ditanam didataran rendah (< 700 mdpl).

ü Bahan baku kopi Arabika dan Robusta tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

ü Luas pertanaman kopi yang diusahakan di Indonesia lumayan besar dan produktivitasnya masih bisa ditingkatkan. Dengan luasan 1.308.000 ha, Indonesia memiliki 296.854 ha untuk kopi arabika dan 1.011.146 ha kopi robusta (AEKI, 2012).

ü Di Indonesia, tanaman kopi dihasilkan dari tanaman perkebunan rakyat 90%, perkebunan negara dan swasta sisanya.

  1. Sumber Daya Modal

ü Secara umum, sumber daya modal untuk investasi pada industri pengolahan kopi berupa investasi yang berbadan hukum (PMA, PMDN, dan non PMA/PMDN berupa BUMN, BUMD, Koperasi) dan tidak berbadan hukum (perorangan atau kelompok).

ü Iklim usaha yang kondusif, dengan sejumlah fasilitas seperti: informasi, layanan teknologi, dan jasa pelayanan dapat dipercaya telah berhasil menarik investor untuk usaha perkopian Indonesia.

ü Perlu meningkatkan daya tarik investor pada usaha perkopian diperlukan kebijakan iklim usaha kondusif, serta peningkatan kualitas pelayanan terhadap masyarakat.

  1. Sumber Daya Manusia

ü Sumber daya manusia untuk usaha bidang perkopian di Indonesia cukup memadai baik secara kuantitatif tetapi secara kualitatif masih buruk.

ü Minimnya pengetahuan, tatacara budidaya kopi, dan teknologi pada petani kopi. Tinggi tanaman yang idealnya seukuran dengan tinggi orang Indonesia yakni 1,8 – 2 meter tetapi oleh petani dibiarkan begitu saja bahkan mencapai 5-6 meter. Salah satu contoh ini menyebabkan produksi kopi petani jauh dari kata baik.

ü Penyerapan tenaga kerja dibidang usaha perkopian sebagian besar masih pada sub sektor perkebunan, sedangkan pada sub sektor industri pengolahan masih sedikit.

  1. Infrastruktur : Kondisi infrastruktur untuk usaha perkopian utamanya di pulau Jawa, seperti: jalan, alat angkutan, pelabuhan, listrik dan energi cukup memadai hanya belum maksimal, terlebih pada masalah jalan. Kebanyakan jalan yang mengarah langsung ke perusahaan kopi banyak mengalami kerusakan. Perlunya perbaikan-perbaikan dipelbagai sector di sektor penunjang ini agar pengiriman serta keperluan-keperluan lainnya bisa tidak terlambat.
  2. Teknologi

ü Teknologi pada budidaya dan pengolahan kopi belum berkembang pesat.

ü Teknologi menanggulangi hama penyakit dan pengolahan kopi pada perusahaan negara, swasta serta petani harus disamaratakan caranya, agar hasilnya tidak jauh berbeda.

ü Teknologi produk dan desain kemasan diarahkan untuk diversifikasi produk (kopi instan, kopi mix, kopi dekafein, minuman kopi beraroma).

ü Inovasi teknologi produk kopi disesuaikan terhadap selera konsumen, dengan cita rasa yang didasarkan: jenis kopi, kualitas biji kopi, lingkungan tempat tumbuh tanaman dan teknologi pengolahan biji kopi.

3.3.3  Industri Inti, Pendukung dan Terkait

  1. Industri Inti : Perkebunan Kopi PTPN, Perusahaan Swasta
  2. Industri Pemasok : Petani Rakyat
  3. Industri Penunjang/ Pendukung : Pabrik Pengolahan Kopi, Jasa Perbankan, Jasa Transportasi, Pengemasan, Mesin Peralatan
  4. Industri Terkait : Pabrik Susu, Pengolahan Limbah Kopi (Kompos), Pakan Ternak
  5. Institusi Pendukung : Lembaga Penelitian Kopi (Puslit Kopi-Kakao), AEKI (Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia)
  6. Buyer : Domestik dan Luar negeri

 

3.3.4  Persaingan, Struktur dan Strategi Perusahaan

Saat ini, persaingan kopi Indonesia dengan kopi dari produsen kopi lainnya sedikit timpang. Hal ini dilihat dari total produksi yang dihasilkan dari masing-masing negara, Indonesia masih kalah jauh dan perlu perbaikan menyeluruh agar kopi Indonesia bisa bersaing kembali, mengingat luasan pertanaman kopi Indonesia cukup luas. Pada struktur dan strategi perusahaan, perusahaan di Indonesia perlu mengembangkan cara-cara baru dan strategi yang sekiranya mampu membawa kopi Indonesia memiliki harga jual yang tinggi. Berikut adalah yang bisa dilakukan oleh perusahaan dalam hal strategi.

1). Faktor intern perusahaan:

  • Penyediaan kualitas dan kuantitas kopi biji dan tersedia secara kontinyu,
  • Menyediakan SDM untuk meningkatkan kemampuan budidaya, processing, pemasaran dan managerial perusahaan,
  • Efisiensi biaya produksi untuk mendapatkan harga jual produk bersaing
  • Promosi di setiap event yang diselenggarakan baik di dalam negeri maupun luar negeri, dan
  • Pelayanan optimal perusahaan.

2). Faktor ekstern perusahaan:

  • Membangun kerja sama kemitraan antar pemangku kepentingan;
  • Pengendalian perusahaan akibat munculnya pesaing-pesaing baru;
  • Pengendalian perusahaan akibat terjadinya perubahan situasi moneter, fiskal dan kebijakan pemerintah;
  • Pengendalian perusahaan akibat terjadinya gejolak politik dan sosial (Pemilu, Pilkada, aksi buruh dsb).
  • Mengantisipasi adanya perkembangan perekonomian global dan
  • Mengantisipasi adanya ketentuan tarif, NTB, HAM dan lingkungan hidup negara pengimpor.

 

3.3.5  Peranan Pemerintah

Peranan pemerintah pada komoditi ini juga banyak berpengaruh disegala sektor di dunia perkopian Indonesia. Berikut adalah kondisi peranan pemerintah.

ü Kebijakan regulasi investasi masih lemah. Masih belum tegasnya dan sering berubahnya aturan-aturan dalam membangun dan mengembangkan usaha serta ketidakjelasan iklim bisnis di bidang industri utamanya menyebabkan investor enggan menancapkan usahanya di Indonesia.

ü Penetapan regulasi-regulasi yang berkaitan dengan komoditi kopi baik ditingkat budidaya, pengolahan hingga ekspor. Regulasi pemerintah yang berkaitan dengan kopi, antara lain:

  • Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 41/M-DAG/PER/9/2009 tentang Ketentuan Ekspor Kopi.
  • Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 10/M-DAG/PER/3/2009 tentang Ekspor Barang yang Wajib Menggunakan Letter of Credit.

 

3.3.6  Peranan Peluang

Peluang ekspor kopi Indonesia di pasar dunia cukup terbuka lebar. Pelbagai peluang banyak digunakan untuk meningkatkan nilai jual produk kopi, salah satunya adalah kopi-kopi spesialiti. Berikut ini adalah salah satu peluang Indonesia dalam pasar dunia, yakni pengembangan spesialiti kopi arabika dan robusta. Kekhasan kopi-kopi ini juga akan menambah value added kopi itu sendiri sehingga dapat meningkatkan devisa dan brandimage kopi Indonesia. Pangsa pasar untuk kopi-kopi spesialiti juga lumayan besar dan harganya pun lebih tinggi dari pada kopi-kopi regular.

Tabel 3. 2 Spesialti Kopi Arabika Indonesia

No.

Jenis Kopi

Masa Panen

Proses

Grade

Citarasa

Produksi / tahun

1. Mandheling Coffee September – May semi Washed 1,2, & 3 Full body, neutral, good acidity 35,000
2. Linthong Coffee October – May semi Washed 1,2, & 3 Fine acidity, and good body 10,000
3. Java Coffee May – August Wet Process 1 Good body, fine acidity, nice complex cup and exotic flavour 4,000
4. Toraja / Kalosi / Celebes Coffee June – September Dry Process 1 & 2 Good acidity, smooth, very nice mellow and good body 4,000
5. Bali Coffee May – September Wet & Dry 1,2, & 3 Fine acidity, smooth 2,000

Sumber : AEKI, 2012

Tabel 3. 3 Spesialti Kopi Robusta Indonesia

No.

Jenis Kopi Masa Panen Proses Grade Citarasa Produksi / tahun
1. Washed Java Robusta May – September Wet Process 1 Good body, clean, very weak acidity and bitterness net 5,000
2. Lampung Specialty AP April – July Dry Process 1 Full body, clean and very weak acidity 15,000
3. Lampung Specialty ELB April – July Dry Process 1 Full body, large beans and clean 10,000
4. Flores Coffee May – August Wet Process 1 Good body and bitterness net 4,000

Sumber : AEKI, 2012

Selain peluang kopi-kopi spesialti, kopi-kopi go green juga dapat meningkatkan nilai tambah, karena kopi-kopi semacam ini banyak dipesan negara luar seiring dengan semakin diperhatikannya urusan keshatan konsumen.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1     KESIMPULAN

  1. Tidak adanya cara budidaya tanaman kopi yang baik sehingga dengan luasan yang cukup besar, Indonesia masih belum bias menghasilkan produksi koi optimal
  2. Perlu adanya kesepakatan dari petani

4.2     SARAN

  1. Pemberian pelbagai kemudahan bagi petani kopi baik modal, kemitraan dan pengawasan hasil serta distribusi hasil panen kopi.
  2. Perlunya pemerintah mengembangkan teknologi-teknologi termutakhir baik di budiaya hingga pengolahan dengan dibantu LITBANG.
  3. Perlunya pengembangan industri pengolahan kopi di Indonesia.
  4. Promosi untuk meningkatkan konsumsi kopi domestik  karena tingkat konsumsi dalam negeri yang masih rendah.
  5. Membangun citra merk baik di bahan baku kering maupun di produk olahan, lebih banyak modifikasi produk olahan dan pemanfaatan cafe-cafe.
  6. Mengusahakan kopi-kopi spesialiti khas Indonesia, terutama pada kopi arabika.
  7. Penetapan regulasi-regulasi yang berkaitan dengan komoditi kopi baik ditingkat budidaya, pengolahan hingga ekspor.
  8. Keharusan pemerintah untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.
  9. Pemberian kemudahan bagi investor kopi dalam kemudahan informasi dan infrastruktur.

 

V. DAFTAR PUSTAKA

AEKI. 2012. . http://www.aeki-aice.org

Departemen Perindustrian. 2009. Roadmap Industri Pengolahan Kopi. http:// agro.kemenperin.go.id/uploads/pdf/ROADMAP-KOPI.pdf [26 Maret 2012]

ICO. 2012

http://nsrupidara.wordpress.com/2008/05/22/daya-saing-dan-kualitas-sdm/

http://www.ico.org/documents/cmr-1211-e.pdf

Kembali Menulis

Posted: 4 November 2013 in Tak Berkategori

Wuaaah sudah lama rasanya tidak menulis lagi, serasa sudah usang melihat yang beginian. katrok rasanya. maklum sudah lama hampir 3 tahun ini blog ini g ane rawat seperti dahulu kala. perlu ide dan semangat buat membuat ane mau nulis rapi dan berenerjik,,hahaha. Penulis sekarang sambil nyambi tesis buat studi S2 tugas akhir. Wah sudah gak kerasa umur 23, dulunya D4 amburadul sekarang dituntut untuk berpikir kritis dan ya samil refreshing buat tulisan lagi dag. Semoga apa yang ane tulis ntar bermanfaat lagi yak. Semangattttttt!!!!

Indonesia merupakan negara produsen kopi keempat terbesar dunia setelah Brazil, Vietnam dan Colombia.  Dari total produksi, sekitar 67% kopinya diekspor sedangkan sisanya (33%) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.  Tingkat konsumsi kopi dalam negeri berdasarkan hasil survei LPEM UI tahun 1989 adalah sebesar 500 gram/kapita/tahun.  Dewasa ini kalangan pengusaha kopi memperkirakan tingkat  konsumsi kopi di Indonesia telah mencapai 800 gram/kapita/tahun.  Dengan demikian dalam kurun waktu 20 tahun peningkatan konsumsi kopi telah mencapai 300 gram/kapita/tahun.

Sebagai negara produsen, Ekspor kopi merupakan sasaran utama dalam memasarkan produk-produk kopi yang dihasilkan Indonesia.  Negara tujuan ekspor adalah negara-negara konsumer tradisional seperti USA, negara-negara Eropa dan Jepang. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, telah terjadi peningkatan kesejahteraan dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia yang akhirnya mendorong terhadap peningkatan konsumsi kopi.  Hal ini terlihat dengan adanya peningkatan pemenuhan  kebutuhan dalam negeri yang pada awal tahun 90an  mencapai 120.000 ton, dewasa ini telah mencapai sekitar 180.000 ton. Oleh karena itu, secara nasional perlu dijaga keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan kopi terhadap aspek pasar luar negeri (ekspor) dan dalam negeri (konsumsi kopi) dengan menjaga dan meningkatkan produksi kopi nasional.

Secara besaran ekspor kopi kopi di Indonesia adalah sebagai berikut

kopi

Dengan semakin meningkatnya ekspor kopi di Indonesia maka secara langsung harus memberikan dampak yang nyata bagi Indonesia sendiri. Selain itu, peningkatan atau persentase orang yang minum kopi di Indonesia juga harus ditingkatan karena itu merupakan budaya yang melekat sejak dahulu kala.

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa yag dinamakan dengan perubahan-perubahan. Adanya perubahan-perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan sutu perbandingan dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang kemudian dibandingkan dengan keadaan masyarakat pada masa lampau. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, pada intinya merupakan suatu proses yang terjadi terus menerus, ini arinya bahwa masyarakat pada kenyataannya akan mengalami perubahan-perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi pada suatu masyarakat dengan masyarakat yang lain tidaklah sama.

Perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi  sistem sosialnya. Tekanan pada definisi tersebut adalah pada lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana perubahan memengaruhi struktur masyarakat lainnya. Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat seperti misalnya perubahan dalam unsur geografis, biologis, ekonomis, dan kebudayaan.

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yaitu meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, dan lainnya. Akan tetapi, perubahan tersebut tidak memengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian, dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan.

Dalam setiap prakteknya di lapangan, perubahan sosial dapat terjadi sangat lambat maupun sangat cepat. Hal ini tergantung pada faktor-faktor yang menunjang perubahan sosial dalam masyarakat tersebut. Pada konsep-konsep yang ada, faktor-faktor ini dibagi menjadi 2, yakni faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor-faktor ini lah yang menentukan bagaimana laju perubahan sosial dalam masyarakat. Untuk pembahasan lebih lanjut, kedua faktor ini akan penulis jelaskan pada bab Tinjauan Pustaka.

Perumusan Masalah

Beberapa rumusan masalah yang dapat dikaji dari uraian-uraian di atas, antara lain:

  1. Perubahan sosial pada masyarakat dipengaruhi oleh pelbagai faktor berdasarkan arah timbulnya pengaruh, sebutkan dan jelaskan?
  2. Sebutkan pengertian faktor pendukung dan penghambat dalam perubahan sosial/masyarakat?
  3. Sebutkan hal-hal apa sajakah yang termasuk dalam faktor pendukung dan penghambat?

Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk:

  1. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang menimbulkan terjadinya perubahan sosial berdasarkan arah timbulnya pengaruh.
  2. Untuk mengetahui pengertian faktor pendukung dan penghambat dalam perubahan sosial masyarakat.
  3. Untuk memaparkan faktor-faktor apa saja yang termasuk dalam faktor pendukung dan penghambat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Perubahan Sosial

Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat yang mencakup perubahan dalam aspek-aspek struktur dari suatu masyarakat, atau karena terjadinya perubahan dari faktor lingkungan, dikarenakan berubahnya sistem komposisi penduduk, keadaan geografis, serta berubahnya sistem hubungan sosial, maupun perubahan pada lembaga kemasyarakatannya. Perubahan ini menyangkut pada seluruh segmen yang terjadi di masyarakat pada waktu tertentu. Perubahan sosial dalam masyarakat bukan merupakan sebuah hasil atau produk tetapi merupakan sebuah proses. Perubahan sosial merupakan sebuah keputusan bersama yang diambil oleh anggota masyarakat. Konsep dinamika kelompok menjadi sebuah bahasan yang menarik untuk memahami perubahan sosial.

Berdasarkan besar kecilnya pengaruh yang terjadi pada masyarakat, perubahan sosial dibagi menjadi 2, yakni perubahan sosial yang besar dan perubahan sosial yang kecil. Perubahan sosial yang besar pada umumnya adalah perubahan yang akan membawa pengaruh yang besar pada masyarakat. Misalnya, terjadinya proses industrialisasi pada masyarakat yang masih agraris. Di sini lembaga-lembaga kemasyarakatan akan terkena pengaruhnya, yakni hubungan kerja, sistem pemilikan tanah, klasifikasi masyarakat, dan lainnya. Sedangkan perubahan sosial yang kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa akibat yang langsung pada masyarakat. Misalnya, perubahan bentuk potongan rambut pada seseorang, tidak akan membawa pengaruh yang langsung pada masyarakat secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan tidak akan menyebabkan terjadinya perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.

Arah Timbulnya Faktor Perubahan Sosial

Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.

Dalam kehidupan nyata, perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat, pasti akan terjadi. Setiap segmen masyarakat hendaknya fleksibel terhadap perubahan yang akan terjadi baik cepat maupun lambat. Dengan keunggulan seperti itu, masyarakat akan mengurangi tingkat pengaruh negatif dari perubahan ini. Arah timbulnya pengaruh pun dapat berasal dari dalam maupun luar. Berikut adalah penjelasan faktor-faktor perubahan sosial berdasarkan arah timbulnya pengaruh.

a. Internal Factor

Internal factor (faktor dalam) adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu yang menyebabkan timbulnya perubahan pada masyarakat itu sendiri baik secara individu, kelompok ataupun organisasi. Berikut ini sebab-sebab perubahan sosial yang bersumber dari dalam masyarakat (sebab intern).

1)             Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk. Pertambahan penduduk yang sangat cepat akan mengakibatkan perubahan dalam struktur masyarakat, khususnya dalam lembaga kemasyarakatannya. Salah satu contohnya disini adalah orang akan mengenal hak milik atas tanah, mengenal system bagi hasil, dan yang lainnya, dimana sebelumnya tidak pernah mengenal. Sedangkan berkurangnya jumlah penduduk akan berakibat terjadinya kekosongan baik dalam pembagian kerja, maupun stratifikasi social, hal tersebut akan mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada.

2)             Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention). Suatu proses social dan kebudayaan yang besar, tetapi terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama disebut dengan inovasi. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya unsur kebudayaanbaru yang tersebar ke lain-lain bagian masyarakat, dan cara-cara unsure kebudayaan baru tadi diterima, dipelajari dan akhirnya dipakai dalam masyarakat yang bersangkutan. Penemuan baru sebagai akibat terjadinya perubahan-perubahan dapat dibedakan dalam pengertian discovery dan invention. Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat ataupun yang berupa gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian ciptaan para individu. Discovery sendiri akan berubah menjadi invention, jika masyarakat sudah mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru tersebut.

3)             Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat. Pertentangan ini bisa terjadi antara individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan kelompok. Mmisalnya saja pertentangan antara generasi muda dengan generasi tua. Generasi muda pada umumnya lebih senang menerima unsur-unsur kebudayaan asing, dan sebaliknya generasi tua tidak menyenangi hal tersebut. Keadaan seperti ini pasti akan mengakibatkan perubahan dalam masyarakat.

4)             Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar. Revolusi yang terjadi pada suatu masyarakat akanm membawa akibat berubahnya segala tata cara yang berflaku pada lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Biasanya hal ini diakibatkan karena adanya kebijaksanaan atau ide-ide yang berbeda. Misalnya, Revolusi Rusia (Oktober 1917) yang mampu menggulingkan pemerintahan kekaisaran dan mengubahnya menjadi sistem diktator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar, baik dari tatanan negara hingga tatanan dalam keluarga.

b. External Factor

Selain internal factor, pada masyarakat juga dikenal external factor. External factor atau faktor luar adalah faktor-faktor yang berasal dari luar masyarakat yang menyebabkan timbulnya perubahan pada masyarakat. Berikut ini sebab-sebab perubahan sosial yang bersumber dari luar masyarakat (sebab ekstern).

1)             Adanya pengaruh bencana alam. Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu daerah untuk mengungsi meninggalkan tanah kelahirannya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal ini kemungkinan besar juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola kelembagaannya.

2)             Adanya peperangan, baik perang saudara maupun perang antarnegara dapat menyebabkan perubahan, karena pihak yang menang biasanya akan dapat memaksakan ideologi dan kebudayaannya kepada pihak yang kalah. Misalnya, terjadinya perang antarsuku ataupun negara akan berakibat munculnya perubahan-perubahan, pada suku atau negara yang kalah. Pada umunya mereka yang menang akan memaksakan kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan oleh masyarakatnya, atau kebudayaan yang dimilikinya kepada suku atau negara yang mengalami kekalahan. Contohnya, jepang yang kalah perang dalam Perang Dunia II, masyarakatnya mengalami perubahan-perubahan yang sangat berarti.

3)             Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan. Jika pengaruh suatu kebudayaan dapat diterima tanpa paksaan, maka disebut demonstration effect. Jika pengaruh suatu kebudayaan saling menolak, maka disebut cultural animosity. Adanya proses penerimaan pengaruh kebudayaan asing ini disebut dengan akulturasi. Jika suatu kebudayaan mempunyai taraf yang lebih tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul proses imitasi yang lambat laun unsur-unsur kebudayaan asli dapat bergeser atau diganti oleh unsur-unsur kebudayaan baru tersebut. Pengaruh-pengaruh itu dapat timbul melalui proses perdagangan dan penyebaran agama.

Faktor Pendukung dan Penghalang Proses Perubahan

Faktor Pendukung Proses Perubahan

Terjadinya suatu proses perubahan pada masyarakat, diakibatkan adanya faktor yang mendorongnya, sehingga menyebabkan timbulnya perubahan. Faktor pendorong tersebut menurut Soerjono Soekanto antara lain:

Kontak dengan kebudayaan lain

Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusion (difusi). Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu kepada individu lain. Dengan proses tersebut manusia mampu untuk menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. Dengan terjadinya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima oleh masyarakat dapat diteruskan dan disebar luaskan kepada semua masyarakat, hingga seluruh masyarakat dapat merasakan manfaatnya.

Proses difusi dapat menyebabkan lancarnya proses perubahan, karena difusi memperkaya dan menambah unsur-unsur kebudayaan yang seringkali memerlukan perubahan-perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan, yang lama dengan yang baru.

Sistem pendidikan formal yang maju

Pada dasarnya pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi individu, untuk memberikan wawasan serta menerima hal-hal baru, juga memberikan bagaimana caranya dapat berfikir secara ilmiah. Pendidikan juga mengajarkan kepada individu untuk dapat berfikir secara obyektif. Hal seperti ini akan dapat membantu setiap manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuh kebutuhan zaman atau tidak.

Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju

Bila sikap itu telah dikenal secara luas oleh masyarakat, maka masyarakat akan dapat menjadi pendorong bagi terjadinya penemuan-penemuan baru. Contohnya hadiah nobel, menjadi pendorong untuk melahirkan karya-karya yang belum pernah dibuat.

Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation)

Adanya toleransi tersebut berakibat perbuatan-perbuatan yang menyimpang itu akan melembaga, dan akhirnya dapat menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan oleh masyarakat.

Sistem terbuka pada lapisan masyarakat

Adanya system yang terbuka di dalam lapisan masyarakat akan dapat menimbulkan terdapatnya gerak social vertical yang luas atau berarti member kesempatan kepada para individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri. Hal seperti ini akan berakibat seseorang mengadakan identifikasi dengan orang-orang yang memiliki status yang lebih tinggi. Identifikasi adalah suatu tingkah laku dari seseorang, hingga  orang tersebut merasa memiliki kedudukan yang sama dengan orang yang dianggapnya memiliki golongan yang lebih tinggi. Hal ini dilakukannya agar ia dapat diperlakukan sama dengan orang yang dianggapnya memiliki status yang tinggi tersebut.

Adanya penduduk yang heterogen

Terdapatnya penduduk yang memiliki latar belakang kelompok-kelompok social yang berbeda-beda, misalnya ideology, ras yang berbeda akan mudah menyulut terjadinya konflik. Terjdinya konflik ini akan dapat menjadi pendorong perubahan-perubahan sosial di dalam masyarakat.

Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu

Terjadinya ketidakpuasan dalam masyarakat, dan berlangsung dalam waktu yang panjang, juga akan mengakibatkan revolusi dalam kehidupan masyarakat.

Adanya orientasi ke masa depan

Terdapatnya pemikiran-pemikiran yang mengutamakan masa yang akan datang, dapat berakibat mulai terjadinya perubahan-perubahan dalam system social yang ada. Karena apa yang dilakukan harus diorientasikan pada perubahan di masa yang akan datang.

Faktor Penghalang Proses Perubahan

Di dalam proses perubhan tidak selamanya hanya terdapat faktor pendorong saja, tetapi juga ada faktor penghambat terjadinya proses perubahan tersebut. Faktor penghalang tersebut antara lain:

Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat

Terlambatnya ilmu pengetahuan dapat diakibatkan karena suatu masyarakat tersebut hidup dalam keterasingan dan dapat pula karena ditindas oleh masyarakat lain.

Sikap masyarakat yang tradisional

Adanya suatu sikap yang membanggakan dan memperthankan tradisi-tradisi lama dari suatu masyarakat akan berpengaruh pada terjadinya proses perubahan. Karena adanya anggapan bahwa perubahan yang akan terjadi belum tentu lebih baik dari yang sudah ada.

Adanya kepentingan yang telah tertanam dengan kuatnya.

Organisasi sosial yang telah mengenal system lapisan dapat dipastikan aka nada sekelompok individu yang memanfaatkan kedudukan dalam proses perubahan tersebut. Contoh, dalam masyarakat feodal dan juga pada masyarakat yang sedang mengalami transisi. Pada masyarakat yang mengalami transisi, tentunya ada golongan-golongan dalam masyarakat yang dianggap sebagai pelopor proses transisi. Karena selalu mengidentifikasi diri dengan usaha-usaha dan jasa-jasanya, sulit bagi mereka untuk melepaskan kedudukannya di dalam suatu proses perubahan.

Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.

Hal ini biasanya terjadi dalam suatu masyarakat yang kehidupannya terasing, yang membawa akibat suatu masyarakat tidak akan mengetahui terjadinya perkenmbangan-perkembangan yang ada pada masyarakat yang lainnya. Jadi masyarakat tersebut tidak mendapatkan bahan perbandingan yang lebih baik untuk dapat dibandingkan dengan pola-pola yang telah ada pada masyarakat tersebut.

Adanya prasangka buruk terhadap hal-hal baru.

Anggapan seperti inibiasanya terjadi pada masyarakat yang pernah mengalami hal yang pahit dari suatu masyarakat yang lain. Jadi bila hal-hal yang baru dan berasal dari masyarakat-masyarakat yang pernah membuat suatu masyarakat tersebut menderita, maka masyarakat ituakan memiliki prasangka buruk terhadap hal yang baru tersebut. Karena adanya kekhawatiran kalau hal yang baru tersebut diikuti dapat menimbulkan kepahitan atau penderitaan lagi.

Adanya hambatan yang bersifat ideologis.

Hambatan ini biasanya terjadi pada adanya usaha-usaha untuk merubah unsur-unsur kebudayaan rohaniah. Karena akan diartikan sebagai usaha yang bertentangan dengan ideologi masyarakat yang telah menjadi dasar yang kokoh bagi masyarakat tersebut.

Adat atau kebiasaan

Biasanya pola perilaku yang sudah menjadi adat bagi suatu masyarakat akan selalu dipatuhi dan dijalankan dengan baik. Dan apabila pola perilaku yang sudah menjadi adat tersebut sudah tidak dapat lagi digunakan, maka akan sulit untuk merubahnya, karena masyarakat tersebut akan mempertahankan alat, yang dianggapnya telah membawa sesuatu yang baik bagi pendahulu-pendahulunya.

Faktor-faktor yang menghalangi terjadinya proses perubahan tersebut, secara umum memang akan merugikan masyarakat itu sendiri. Karena setiap anggota dari suatu masyarakat umumnya memiliki keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih daripada yang sudah didapatnya. Hal tersebut tidak akan diperolehnya jika masyarakat tersebut tidak mendapatkan adanya perubahan-perubahan dan hal-hal yang baru.

Faktor penghambat dari proses perubahan social ini, oleh Margono Slamet dikatakannya sebagai kekuatan pengganggu atau kekuatan bertahan yang ada di dalam masyarakat. kekuatan bertahan adalah kekuatan yang bersumber dari bagian-bagian masyarakat yang:

  1. Menentang segala macam bentuk perubahan. Biasanya golongan yang paling rendah dalam masyarakat selalu menolak perubahan, karena mereka memerlukan kepastian untuk hari esok. Mereka tidak yakin  bahwa perubahan akan membawa perubahan untuk hari esok.
  2. Menentang tipe perubahan tertentu saja, misalnya ada golongan yang menentang pelaksanaan keluarga berencanasaja, akan tetapi tidak menentang pembangunan-pembangunan lainnya.
  3. Sudah puas dengan keadaan yang ada.
  4. Beranggapan bahwa sumber perubahan tersebut tidak tepat. Golongan ini pada dasarnya tidak menentang perubahan itu sendiri, akan tetapi tidak menerima perubahan tersebut oleh karena orang yang menimbulkan gagasan perubahan tidak dapat mereka terima. Hal ini dapat dihindari dengan jalan menggunakan pihak ketiga sebagai penyampai gagasan tersebut kepada masyarakat.
  5. Kekurangan atau tidak tersedianya sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan perubahan diinginkan.

Hambatan tersebut selain dari kekuatan yang bertahan, juga terdapat kekuatan pengganggu.  Kekuatan pengganggu ini bersumber dari:

  1. Kekuatan-kekuatan di dalam masyarakat yang bersaing untuk memperoleh dukungan seluruh masyarakat dalam proses pembangunan. Hal ini dapat menimbulkan perpecahan, yang dapat mengganggu pelaksanaan pembangunan.
  2. Kesulitan atau kekomplekkan perubahan yang berakibat lambatnya penerimaan masyarakat terhadap perubahan yang akan dilakukan. Perbaikan gizi, keluarga berencana, konservasi hutan dan lain-lain, adalah beberapa contoh dari bagian itu.
  3. Kekurangan sumber daya yang diperlukan dalam bentuk kekurangan pengetahuan, tenaga ahli, keterampilan, pengertian, biaya dan sarana serta yang lainnya.

PENUTUP

KESIMPULAN

Suatu perubahan social dalam kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang bertindak sebagai pendukung dan penghambat jalannya proses perubahan social tersebut. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari dalam masyarakat itu sendiri (internal factor) serta juga dapat berasal dari luar lingkupan masyarakat (External factor). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perubahan masyarakat berdasarkan arah antara lain, Internal Factor yang didalamnya terdapat pelbagai faktor, Dinamika Penduduk, Penemuan-penemuan baru, Munculnya pertentangan, dan Terjadinya Pemberontakan. Sedangkan faktor yang kedua adalah External Factor, terdiri dari Bencana Alam, Perang dan Kebudayaan masyarakat lain.

Faktor pendukung perubahan social antara lain, kontak dengan kebudayaan lain, sistem pendidikan formal yang maju, sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju, toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation), sistem terbuka pada lapisan masyarakat, adanya penduduk yang heterogen, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu dan adanya orientasi ke masa depan.

Faktor penghambat perubahan social antara lain, perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat, sikap masyarakat yang tradisional, adanya kepentingan yang telah tertanam dengan kuatnya, kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, adanya prasangka buruk terhadap hal-hal baru, adanya hambatan yang bersifat ideologis dan adat atau kebiasaan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Perubahan Sosial. http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_sosiologi_dan_ilmu_sosial_dasar/bab7_perubahan_sosial.pdf [29 September 2009]

Crayonpedia. 2009. Perubahan social dalam masyarakat. http://www.crayonpedia.org/mw/BAB_5._PERUBAHAN_SOSIAL_DALAM_MASYARAKAT [29 September 2009]

——-. 2009. Faktor Internal dan Faktor Eksternal. http://www.crayonpedia.org/mw/Faktor-Faktor_Penyebab_Perubahan_Sosial._Faktor%E2%80%93Faktor_Internal._Faktor-Faktor_Eksternal_9.1 [29 September 2009]

——-. 2009. Faktor Penghambat Perubahan Sosial. http://www.crayonpedia.org/mw/Faktor-Faktor_Penghambat_Perubahan_Sosial_Budaya_9.1 [29 September 2009]

——-. 2009. Faktor Pendorong Perubahan Sosial. http://www.crayonpedia.org/mw/Faktor-Faktor_Pendorong_Perubahan_Sosial_Masyarakat_9.1 [29 September 2009]

——-. 2009. Contoh Perilaku Masyarakat Sebagai Akibat Adanya Perubahan Sosial Budaya. http://www.crayonpedia.org/mw/Contoh_Perilaku_Masyarakat_Sebagai_Akibat_Adanya_Perubahan_Sosial_Budaya_9.1 [29 September 2009]